بيْنَما أيُّوبُ يَغْتَسِلُ عُرْيانًا خَرَّ عليه رِجْلُ جَرادٍ مِن ذَهَبٍ، فَجَعَلَ يَحْثِي في ثَوْبِهِ، فَنادَى رَبُّهُ: يا أيُّوبُ ألَمْ أكُنْ أغْنَيْتُكَ عَمَّا تَرَى؟ قالَ: بَلَى، يا رَبِّ، ولَكِنْ لا غِنَى بي عن بَرَكَتِكَ
“Suatu ketika Ayyub A.S. mandi dengan telanjang, tiba-tiba belalang emas jatuh menimpa tubuhnya. Ayyub pun memasukkannya ke dalam bajunya. Maka Tuhan ‘Azza wa Jalla menyerunya, “Wahai Ayub! Bukankah aku telah mencukupkanmu dari apa yang engkau lihat?” Ia menjawab, “Tentu, demi kemuliaan-Mu, akan tetapi aku tidak pernah merasa cukup dari berkah-Mu.” (H.R. Bukhari)
Umpama Anda orang kaya lalu ada BLT dari pemerintah lalu Anda ikut-ikutan ngotot ambil jatah BLT apa pantas? Nah yang terjadi pada Nabi Ayyub AS itu begitu.
Dalam hadits di atas dikisahkan suatu ketika Ayyub sedang mandi telanjang tiba-tiba ada belalang emas jatuh mengenai tubuhnya. Ia yang sudah kaya tampak gereget antusias mengantonginya ke baju beliau. Karena terlihat rakus karena Ayyub sudah kaya raya, lantas Allah menegurnya.
“Kamu sudah Aku kasih kekayaan melimpah, cuma Aku jatuhi belalang emas saja masih rakus begitu,” kurang lebih begitu maksud teguran-Nya.
Namun value point yang ada di hati Ayyub itu bukan orang rakus yang haus harta, tetapi ada kesadaran yang berbeda. Ayyub melihat belalang emas tersebut sebagai karunia berkah yang diturunkan Allah, lah ada karunia berkah kok tidak antusias diambil, ya rugi besar, kan? Karena itu Ayyub menjawab, “Tentu, demi kemuliaan-Mu, akan tetapi aku tidak pernah merasa cukup dari berkah-Mu.”
Hati Ayyub menyaksikan belalang emas sebagai berkah makanya ia tidak layak merasa cukup dari berkah Allah.
Nah tindakan Ayyub tindakan rakus, namun karena kesadaran hati yang berbeda hasilnya bukan kerakusan tapi kesalehan.
Apa sih yang kyai di pesantren tidak menyuruh santri? 60% pekerjaan kyai dilayani santri. Dan mereka tidak ada yang dibayar sebagaimana asisten. Paling mereka dijamin makan oleh kyai, kalaupun ada uang pesangon ya sekedar untuk jajan sehari-hari, namun gaji asisten tidak ada.
Tindakan kyai tindakan orang tega dan kurang ajar, menyuruh-nyuruh anak orang kerja untuknya tanpa imbalan profesional. Ditegai dan dikurangajari begitu seharusnya si santri dan orang tuanya berang, namun yang terjadi sebaliknya, justru si santri bangga, orang tuanya apa lagi. Dengan bangga orang tuanya berkata, “Anakku jadi driver kyai. Anakku sekarang jadi penderek kyai,” dan seterusnya.
Kok bisa begitu, si anak dan ortu bukannya berang malahan bangga?
Kyai tidak merasa kalau ia sedang suruh-suruh anak orang untuk kerja kepadanya tanpa dibayar, karena kyai juga merasa bukan mental kere, kyai menilai itu adalah training kepada santri agar mereka kaya.
Iya, Anda membayar harga mobil, Anda pun jadi punya kekayaan berupa mobil. Kyai sudah mengajar dan mendidik para santri, gaji juga tidak didapatkan kyai.
Kyai mengajar dan mendidik itu artinya kyai sedang membayar sebuah harga dengan ilmu dan jerih payah. Kalau hanya kyai yang membayar, ya ujung-ujungnya kyainya yang nanti kaya sendirian. Santri yang terima bayaran pendidikan dan ilmu tidak punya kekayaan apa-apa karena ia membayar apa-apa juga tidak. Lah iya, tidak bayar apa-apa bagaimana ia punya sesuatu?
Dengan mereka disuruh bekerja kepada kyai, tanpa dibayar, mereka dilatih untuk membayar suatu harga kepada kehidupan. Kalau nilai bayar mereka besar, itu akan jadi kekayaan. Jadi santri khidmah kepada kyai itu santri sedang diberdayakan oleh kyai agar mereka punya daya bayar besar.
Kalau Anda didatangi tamu hendak beri emas kepada Anda, kan Anda jadi berenergi? Tidak loyo. Lah kyai suruh-suruh anak orang kerja kepadanya itu sama, yang ada di benaknya adalah melatih anak orang untuk kaya. Kalau hanya kyainya yang membayar dengan mendidik dan mengajar ya si kyai yang egois kasih peluang kaya hanya untuk dirinya sendiri, santrinya tidak diberi peluang kaya apa-apa.
Karena si santri dan orang tuanya diberi energi kekayaan oleh kyai, jadinya walaupun prakteknya si santri dijadikan pekerja gratisan, tapi hasilnya bukan hati mereka merasa berang malahan merasa dilimpahi, mereka pun bangga.
Sama, saya dengan para santri juga begitu. Kalau saya tidak suruh mereka khidmah, bagaimana saya akan memberi peluang kepada mereka agar kaya?
Itu juga value point yang ada di hati saya dengan para peserta kelas training saya. Mereka saya suruh bayar untuk ikut kelas saya, itu saya bukan sedang bisnis. Saya hanya melatih mereka untuk kaya.
Iya, saya sudah bayar dengan konten-konten ilmu di media sosial, itu cara saya membayar sebuah kekayaan. Lalu Anda tidak bayar apa-apa kepada saya, ya nanti saya yang kaya sendirian. Maka agar Anda kaya ya saya kasih kesempatan membayar dengan ikut kelas training saya dengan membayar harga registrasinya.
Dan karena kesadaran saya yang begitu keadaan yang terjadi menjadi terbalik 180% derajat. Banyak orang yang boro-boro berat hati bayar ikut kelas training saya, ataupun merasa dipeloroti duitnya, di luar urusan harga registrasi kelas, mereka dengan bangga kerap menghadiahi saya.
Lah kan kacau, prakteknya mereka saya peloroti, bukannya merasa diperas malahan merasa bangga gembira? Ya karena mereka merasakan energi saya yang ingin berikan kekayaan bukan energi merampok kekayaan orang.
Tanpa saya jelaskan di balik peristiwa Ayyub AS dan para kyai, sekarang Anda paham kan intisarinya? Jadilah orang yang berkesadaran memberi energi kepada orang, bukan ambil milik orang itulah kuncinya.
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply