Saya sebagai content creator media sosial itu sering sekali amati fenomena begini, ketika saya sedang intens membangun karya di medsos, justru hasil interaksi postingan landai, interaksi sepi. Dan kelandaian tersebut bisa berlangsung berminggu-minggu, bahkan bulanan, hasil terus stagnan, malah kerap juga menurun, padahal di saat itu saya sedang intens-intensnya. Ketika sedang intens begitu, saya kerap hingga mempelajari algoritmanya.
Dan anehnya nanti ketika saya sudah tidak peduli lagi, saya lupa dengan intensitas kontennya, eeh malahan ada konten yang viral, interaksinya menguat.
Kan aneh sedang intens mengurusi malahan hasil menurun, sedang lupa dan tidak intens malahan hasil membaik?
Intens itu artinya segala daya atensi sedang terfokus, dalam keadaan itu Anda sedang bernafsu kuat. Anda yang cewek saat diperhatikan intensif oleh cowok nakal hingga digoda-goda, Anda merasa risih, tidak? Anda merasa risih karena atensi si cowok nakal sedang bernafsu kuat.
Karena itu, segala sesuatu yang sedang Anda kerjakan dengan intensitas penuh justru hasilnya lengang, landai, atau malah menurun, sebab di saat intensif begitu energi yang keluar dari diri Anda adalah getaran nafsu. Nafsu yang bergetar ya tentu tertolak sama seperti Anda yang cewek menerima atensi godaan cowok nakal.
Nah ketika Anda lengah, tidak peduli ataupun lupa, itu intensitas getaran nafsunya berkurang, sehingga energi yang keluar bisa diterima, hasilnya pun gol.
Jadi kenapa ketika Anda sedang intensif berdoa justru merasa tidak ijabah-ijabah, atau Anda sedang intensif mengerjakan proyek justru luput dari gol, itu disebabkan saat intensif justru nafsu Anda lah yang dominan keluar.
Berarti kita tidak usah punya impian kuat, punya kemauan keras, punya prinsip kerja intensif, kita santai-santai saja kalau sedang punya proyek kerja ataupun sedang berdoa? Tidak begitu.
Sapi pembajak sawah itu kerja keras membajak bahkan kerja kerasnya melampoi si pemilik sawah namun tidak ada sapi pembajak sawah lantas kaya, itu karena si sapi tidak punya atensi yang intensif pada kekayaan saat ia kerja.
Atensi itu nafsu, namun atensi muncul dari latar belakang niat Anda. Kalau niat Anda kuat pasti tekad Ansa kuat dan aksi Anda sungguh-sungguh. Dari sinilah muncul sistem “man jadda wajada” (yang sungguh-sungguh dia berhasil).
Jadi sekalipun atensi intensif itu nafsu tetapi itulah penarik hasil yang akan diperoleh. Tanpa atensi kuat yang diberikan, Anda tidak punya hasil apa-apa persis seperti sapi pembajak sawah.
Jadi benar, lupa itu mekanisme tengah antara doa dan ijabah, mekanisme tengah antara kerja dan hasil, artinya Anda diijabah doanya itu bukan saat Anda sedang intensif-intensifnya berdoa, atau Anda peroleh hasil besar di saat Anda intensif-intensifnya kerja, namun ijabah dan hasil justru kerap nongol setelah Anda mencapai lupa dan tidak intensif lagi. Namun bukan berarti lalu cara unduh ijabah dan unduh keberhasilan itu dibangun dengan sengaja dibuat-buat lupa tanpa atensi kuat, tidak begitu.
Lupa dengan atensi kuat yang diberikan itu datangnya otomatis. Iya, Anda hidup lalu bisa fokus terus, konsentrasi terus, itu tidak mungkin. Pasti ada jeda lengahnya. Sehingga umpama Anda kerja dengan intensif itu otomatis suatu saat Anda lengah dan lupa dengan fokus atensinya. Di saat itulah ijabah datang.
Sebaliknya kalau dari awal-awal doa ataupun kerja Anda sudah pasang badan untuk dibuat-buat lupa itu namanya doa Anda tidak sungguh-sungguh. Kalau tidak sungguh-sungguh, bagaimana punya gol?
Muhammad Nurul Banan
Gus Banan

Leave a Reply