Pada suatu kali, Nabi Musa melewati salah seorang pengikutnya yang sedang bersujud. Setelah beberapa saat, Nabi Musa kembali melewati tempat yang sama dan melihat pengikutnya itu tetap dalam keadaan bersujud. Nabi Musa menegur orang itu dan berkata padanya, “Seandainya keperluanmu ada di tanganku, tentu aku sudah mengabulkannya.”


Ucapan Nabi Musa itu langsung mendapat jawaban dari Allah, “Biarpun lehernya terputus karena terlalu banyak bersujud, Aku tetap tidak akan memberi keperluannya, kecuali dia bersihkan terlebih dulu hatinya. Dia harus memenuhi hatinya dengan mencintai apa yang Aku cintai dan membenci yang Aku benci.”


Nah sangat jelas bahwa misi Tuhan atas doa Anda adalah terbentuknya karakter diri Anda. Artinya proses pengabulan doa adalah proses pembentukan karakter diri.


Lalu karakter terbentuk itu lantaran apa? Segala pembentukan benda itu melalui tempaan. Besi baja mau dibentuk golok harus ditempa keras, dari dilunakan dengan pembakaran api hingga dipukuli keras dengan palu berkali-kali. Makin berulang proses tempaannya, hasilnya makin matang.


Segala bentuk pembentukan karakter benda selalu melalui tempaan, yakni gesekan-gesekan antar benda. Ada bentuk anak akibat gesekan alat kemaluan pejantan dan betina. Ada beras akibat gesekan biji padi dengan mesin penggiling. Ada tulisan status FB akibat gesekan ujung jari dan keyboard handphone, dan seterusnya. Mau tidak mau begitulah proses alam dalam membentuk karakter baru.


Anda berdoa, di situ jika Tuhan hendak kabulkan doa Anda, justru Anda akan diproses dulu agar terbentuk karakternya. Sebab itu ketika ada seorang pengikut Musa AS bersujud sekian lama karena suatu doa, lalu dibelaskasihani oleh Musa dengan menyatakan, “Seandainya keperluanmu ada di tanganku, tentu aku sudah mengabulkannya,” justru ditanggapi oleh Allah, “Sampai putus lehernya untuk sujud pun tidak akan diijabah sehingga ia bersihkan hatinya, hingga mencintai dan membenci apa yang dibenci Allah.” Artinya Allah mengincar terbentuknya karakter mulia dari hamba tersebut.


Tuhan tidak ada kebutuhan apapun dengan Anda sehingga Anda berdoa pada-Nya, Tuhan tidak meminta kebutuhan apapun dengan Anda. Berbeda dengan ketika Anda meminta (berdoa) kepada sesama makhluk, misal kepada Gendruwa. 


Anda minta kebutuhan kekayaan harta kepada Gendruwa, di situ si Gendruwa juga minta kebutuhannya kepada Anda, misal dia minta tumbal. Anda butuh harta gaib si Gendruwa, si Gendruwa pun butuh tumbal dari Anda.


Tuhan tidak ada kebutuhan apapun dengan Anda, Dia tidak meminta apa-apa dari Anda. Dia hanya menginginkan Anda terbentuk sebagai ptibadi baru yang berkualitas.


Kalau karakter Anda tidak dibentuk sebagai pribadi baru lebih dulu, lalu doanya langsung diijabah, maka Anda tumbuh idiot. Idiot itu fisiknya besar tapi jiwanya kebocah-bocahan. Anda berdoa kaya harta lantas begitu saja diberi kekayaan harta tanpa pembentukan karakter Anda lebih dulu, yang terjadi ya jiwa Anda tetap miskin. 


Banyak harta, jiwanya miskin, ya itu namanya idiot. Rumahnya besar, sawahnya luas, tapi irit dan pelitnya super, itu contoh tumbuh idiot.


Kalau tumbuh idiot, ia pun seperti syair Imam Al-Bushiri,


كَمْ حَسَّنَتْ لَذَّةً لِلْمَرْءِ قَاتِلَةً *** مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنَّ السَّمَّ فِى الدَّسَمِ

“Betapa banyak kenikmatan justru berujung pada kematian, karena orang tidak menyadari bahaya racun yang terkandung di dalamnya.”


Nah hukum patennya segala bentuk pembentukan karakter itu selalu lewat tempaan, adukan, polesan, gesekan, benturan, dan lainnya. Maka ini ketika Anda berdoa kepada-Nya, lalu Anda hendak diijabah doanya justru yang turun lebih dulu adalah proses tempaan untuk membentuk karakter baru.


Dan proses tempaan selalu lewat tempaan, adukan, polesan, gesekan, benturan, dan lainnya. Karena ketika doa Anda hendak diijabah yang turun justru berbagai ujian, benturan, musibah, masalah sumpek, dan lainnya sebagai proses membentuk karakter baru.


Dalam berbagai proses tempaan tersebut yang wujudnya adalah kesempitan hidup, di situ muncul hikmah sebab dalam proses tersebut hawa nafsu terkerangkeng tidak banyak gerak.


البَسْطُ تاءْخُذُ النَّفْسُ مِنْهُ حَظَّهاَ بِوُجُودِ الفَرَحِ والقبضُ لاَ حَظَّ للنَّفْسِ فِيْهِ

“Di dalam keadaan lapang (basthu), hawa nafsu dapat mengambil bagiannya karena gembira, sedang dalam keadaan sempit (qabdhu) tidak ada bagian sama sekali untuk hawa nafsu.” (Ibn Athaillah)


Setelah karakternya terbentuk baik, umpama bentuk pedang cantik yang tajam, baru proses tempaan itu dihentikan.


Jujur! Saya dapatkan ide-ide ilmu brilian itu justru saat saya mendapatkan kesempitan hidup dan masalah ruwet. Iya, saat sempit dan sumpek, itu hati jadi lentur karena proses tempa, jadinya bisa mengingat diri sendiri, mengingat kekurangan diri, mengingat kelemahan diri.


Karena ingat diri selanjutnya karakter baik dalam diri lalu terbentuk lantas muncul dalam diri Anda akhlak-akhlak terpuji, dan akan hilang dari diri Anda sifat-sifat buruk.


Nah setelah itu semua baru kemudian doa Anda diijabah. Nyes!


Muhammad Nurul Banan

Gus Banan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *