“Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake,” falsafah Jawa ini berarti “menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan”.
Ini sebenarnya pakerti yang lahir dari operasi matematika tentang nol yang dikurangi dengan bilangan bulat positif. Nol dikurangi bilangan bulat positif menghasilkan bilangan negatif, misal 0 – 5 = -5.
Matematika merupakan hukum kesepakatan eksak alam semesta, sehingga operasi aljabar berada di derajat Al-Muqtadir atau Mahapasti-Nya, aljabar menetapi mekanisme lā tabdīlā li sunnatillāh (tiada pengganti untuk sunatullah).
Alhasil gerak prilaku alam di dimensi 0 bekerja ‘ala kulli syai-in qadīr (di atas segala lini, berkuasa).
Betapa tidak, nol termasuk bilangan cacah, bilangan bulat, bilangan real, dan bilangan komplek. Nol merupakan pemisah antara bilangan positif dan bilangan negatif, tetapi nol tidak dikatakan positif atau negatif. Nol merupakan bilangan yang sebenarnya tidak memiliki tanda, karena ini nol mampu beroperasi ‘alā kulli syai-in qadīr.
Demikian halnya ketika diri Anda “tidak memiliki tanda” alias lepas identitas ego, Anda mampu beroperasi seperti nol.
Nabi Saw selalu mengalami pelepasan ego di awal-awal perjuangannya di Mekah. Sedang shalat dilempari kotoran unta, sedang istirahat hendak ditebas pedang, sedang berkuda, dikejar dari belakang dengan hunusan pedang, dituduh gila, dituduh kampret, dianjing-anjingkan, sedang sujud hendak ditindah batu besar, mau makan diracuni, teror dan intimidasi politik terus beliau terima. Hingga akhirnya memaksa beliau hijrah ke Madinah. Terus seperti itu, beliau sebagai “tanda” tetapi terus dirampas “tanda-nya”, beliau punya identitas ego tetapi egonya terus dinolkan.
Inilah hakikatnya operasi menuju nol, dimana di operasi ini Anda yang terzalimi menerima perbuatan pelepasan “tanda diri”. Sementara si pezalim beroprasi di bidang bilangan positif, dimana ia terus menambah “tanda identitas ego” di dalam dirinya. Orang terzalimi dan si pezalim dalam operasi 0 – 5.
Dalam aturan akhlak Islam, seorang ketika dizalimi punya mekanisme sebagai berikut:
■ Halal membalas sesuai kadar kezaliman, misal asu dibalas asu, ini operasi 5 – 5 = 0.
■ Jika balasannya melebihi kadar kezaliman, misal asu dibalas asu, celeng, bangsat, maka keadaan terbalik, si terzalimi menjadi pezalim, ia telah dosa, ini operasi 1 – 5 = -4.
■ Jika tidak membalas, maka keburukan si terzalimi diberikan kepada si pezalim. Sudah tidak membalas masih juga dizalimi, maka kebaikan si pezalim diambil dan diberikan kepada si terzalimi, ini operasi 0 – 5 = -5.
Tidak membalas, tidak membalas, tidak membalas dan itu terus dilakukan, maka Anda terus masuk ke kedalaman nol, Anda makin tidak bertanda. Saat itu wa huwa ‘alā kulli syai-in qadīr beroperasi sebagaimana hukum nol dikurangi bilangan bulat positif; 0 – 5.
Karena ini, pada akhirnya perang Badar yang umat Islam hanya 3 ratus tentara mampu mengalahkan 3 ribu tentara Quraisy. Kekuatan umat Islam seperti ini karena dalam kurun waktu cukup lama Nabi Saw beserta pengikutnya berada pada akumulasi nol hingga tak terdeteksi, dizalimi secara terus menerus, maka ‘alā kulli syai-in qadīr bekerja.
Hanya perang Uhud yang Nabi Saw kalah dari kaum Quraisy, ini disebabkan para pengikut Nabi Saw setelah mendapat kemenangan demi kemenangan, hingga terlalu “pede”, yakni mereka di mekanisme bilangan bulat positif. Bilangan positif dikurangi bilangan positif ya mekanisme bilangan normal yang bekerja.
Pada puncaknya terjadi Fathul Makkah (Pembebasan Mekah) oleh Nabi Saw. Di sini, seluruh operasi digital kaum Quraisy padam.
Komputer secanggih apapun akan mati mendadak jika tiba-tiba bertemu dengan digit nol. Segala pikiran dan kehendak padam ketika bertemu digit nol.
Komputer memang diperintahkan berhenti operasi atau off, jika bertemu digit nol di sistem software. Nol memang mematikan. Dan peristiwa Fathul Makkah adalah daya nol Nabi Saw selama puluhan tahun diakumulasi.
Al-Qur’an menyebut operasi digit nol dalam peristiwa Fathul Makkah ini dengan “nashrullāh” (pertolongan Allah) dalam Surat An-Nashr 1-3.
Maka ini, orang Jawa punya filosofi, “Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorakè,” dan inilah kekuatan digit nol mematikan sistem komputer.
Jurus tertinggi Kungfu Taichi adalah “merasa tidak berkekuatan apa-apa”, sehingga cara melawan musuh bukan dengan menangkis dan menyerang, tetapi dengan lepas pasrah, lepas tanda, menuju nol.
Dan ketika telah nol, musuh yang menyerang justru terpental, dan serangan musuh berbalik menyerang dirinya sendiri. Bertemu digit nol, semua operasi sistem komputer padam, seluruh pikiran dan kehendak padam.
Demikian, zalim terhadap orang lain sebenarnya upaya “membunuh diri”. Karena setiap kezaliman hakikatnya sedang meng-nol-kan orang lain. Ketika orang lain menjadi nol, maka ‘alā kulli syai-in qadīr beroperasi.
