Author name: gus banan

2024

ISTIGHFAR JADIKAN ANDA MAHAL BERHARGA

  Rasa tidak berharga diri, misal, “Bodohnya aku. Goblok banget si aku,” itu bila dirasakan dalam jangka panjang akan membunuh rezeki Anda, karena uang itu menghargai mahal kepada sesuatu yang berharga. Emas karena berharga didatangi uang besar, rongsokan karena sampah didatangi uang kecil.   Ketika Anda merasa diri Anda tidak berharga, apalagi jika berlangsung dalam waktu lama, disitu Anda memposisikan diri Anda menjadi rongsok, efeknya uang pun menganggap Anda bukan sesuatu berharga, akibatnya Anda kerja pagi, siang, sore, malam, angka uang yang mendatangi Anda kecil.   Ketika Anda berbuat salah, berbuat keliru, istighfar menjadikan Anda berupaya untuk membangun rasa berharga diri.   Tidak ada getaran istighfar menjadikan seseorang merasa rendah diri di depan Tuhan karena kesalahan dan dosanya, justru istighfar menjadikan seseorang merasa berharga di depan Tuhannya.   Betul ia merasa berdosa, merasa bersalah, namun setiap orang yang baca istighfar itu tentu dipicu rasa ingin dihargai Tuhan.   Ciri orang tidak bisa menghargai diri, dia akan bersikap angkuh saat berbuat salah, apalagi berinisiatif minta maaf atas kesalahannya, namun ia malah cari benar sendiri dengan membangun drama, play victim, cari pembenaran, berbohong, dan lainnya.   Demikian pula di depan Tuhannya, orang angkuh enggan mohon-mohon ampunan karena baginya tidak ada kesalahan apa-apa, menganggap semua baik-baik saja.   Nah orang yang baca istighfar itu orang yang mohon ampunan Tuhannya, ia telah melepaskan diri dari keangkuhan-keangkuhan diri, dirinya merasa tidak layak berharga namun ingin berharga, karenanya ia baca istighfar dan taubat.   Karena dipicu rasa ingin berharga di depan Tuhan, lalu dia baca istighfar.   Makanya istighfar memicu rezeki datang, karena istighfar itu getarannya bukan rasa rendah diri dan tak berharga, tapi getarannya rasa ingin berharga.   Apapun yang berharga, nilai belinya mahal. Jika Anda sudah berharga di depan Tuhan, ya rezeki Anda auto datang deras karena Tuhan menganggap Anda berharga. Emas itu berharga, ya dibeli mahal, Anda berharga ya didatangi banyak uang.   مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ   “Barangsiapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka” (H.R. Ahmad)     Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Class

2024

LATIHAN ZUHUD ITU LEPASKAN KEPALANYA, PEGANGI EKORNYA

Prabowo Subianto cuma pakai Toyota Alphard. Mungkin Alphard jadi kendaraan mewah bagi Anda yang cuma jutawan, namun bagi seorang trilyuner seperti beliau itu kendaraan ecek-ecek.   Bagi Prabowo, Alphard tidak berarti karena kebesaran beliau sebagai negarawan dan pengusaha sudah menghebat. Nilai diri Prabowo sudah di atas Alphard, sehingga pakai mobil sederhana tidak pengaruh apapun untuk simbol martabatnya. Nilai Alphard sudah terlewati.   Coba bagi kita yang hanya punya uang ratusan juta, Alphard menjadi simbol prestige, simbol martabat dan kehormatan. Tidak pakai Alphard, tidak gagah.   Itu artinya kalau Anda ingin mudah “melepaskan” dunia maka capailah salah satu urusan dunia ini sebesar-besarnya, karena makin besar nilai yang Anda capai, maka kemampuan Anda untuk melepaskan dunia juga makin besar.   Muhammad SAW sukses menjadi nabi, lalu beliau memilih hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan harta, ya tidak pengaruh apa-apa karena marwah kenabian beliau yang hebat.   Coba Anda hidup dalam keterbatasan harta, apa kira-kira Anda tidak diinjak-injak orang?   Sama saja KH Mustofa Bisri, apa rumah beliau mewah? Tidak. Apalagi rumah elit, bahkan cenderung biasa-biasa saja.   Namun begitu, apa dengan rumah sederhananya, lantas beliau disebut kurang mampu? Tidak. Itu karena nilai diri KH Mustofa Bisri sebagai ulama sudah melampoi harta.   Karena itu untuk zuhud ternyata harus ada duniawi yang Anda harus menggengamnya kuat.   Prabowo mampu melepaskan diri dari mobil mewah tapi untuk mencapai itu beliau gigih dan kuat menggengam dunia politik dan bisnis.   Nabi Muhammad SAW mampu melepaskan kekayaan harta, namun beliau gigih dan kuat memegang risalah kenabian.   Gus Mus mampu melepaskan rumah mewah namun beliau gigih dan kuat menggengam kebesaran ilmu sehingga beliau menjadi ulama tersohor.   Mau zuhud? Ya begitu jalannya, harus ada yang digenggam kuat-kuat, ibaratnya pegang kambing “culna ndase, cekeli buntute,” artinya kepalanya dilepaskan, tapi ekornya pegangi.   Mau zuhud kok cuma modal ikhlasan ya cuma dapat sakit hati. Coba andai ilmu oleh Anda tidak diperjuangkan, nerima jadi orang bodoh, harta tidak diperjuangkan, nerima jadi orang kekurangan, cinta alami patah hati, nerima disia-siakan, jabatan ditinggalkan, nerima tidak punya kehormatan, lah kalau begitu apa bedanya dengan sampah?   Ternyata zuhud tidak hanya konsep melepaskan dengan rela, tetapi juga konsep menggenggam kuat.   Gambaran kecilnya begini, saya untuk ceramah pengajian kadang ada yang mengundang kadang tidak.   Pas rekan ustadz lain laris undangan ngajinya, lalu saya tidak laku, itu rawan sekali sakit hari karena iri, saat begitu saya menyadari diri,   “Halah cuma ngaji di lingkungan kecamatan, saya malah sudah keliling training hampir dari Sabang sampai Merauke.”   Coba kalau tidak punya peraihan duniawi yang lebih besar, kan cuma peroleh sakit hati?   Ibaratnya melatih zuhud itu latihan punya uang satu juta agar enteng melepaskan seratus ribu.   Loh Al-Hallaj dan Budha Gautama hidup sangat asketik, meninggalkan semua urusan duniawi, kok beliau berdua tidak jadi sampah?   Lah beliau berdua berjuang konsisten menggenggam disiplin pertapaan, juga begitu kuat mengejar ilmu dan hikmah sehingga beliau berdua muncul sebagai pencerah rohani.   Bertapa, mengejar ilmu dan hikmah, itu urusan duniawi, bukan? Dikerjakan di dunia, bagaimana bukan urusan dunia?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity Class

2024

UNTUK BISA ISTIRAHAT

Para pemilik mall besar sedikit yang terima sentimen publik, karena mereka hanya mengurus barang dagangan, bukan mengurus manusianya. Cocok barangnya, lalu bayar, ya sudah selesai.   Beda para pejabat politik, contoh presiden atau calon presiden, sudah sebaik dan seramah itu, tidak ada hentinya yang namanya ejekan, bullyan, ancaman, intrik, intimidasi, manuver politik, dan lainnya, itu karena mereka bekerja mengurus manusia.   Ulama juga demikian, kerap terima sentimen publik karena mereka bekerja mengurus manusia.   Menolong sukarela saja bisa jadi keruwetan tak terperi di depan manusia, apalagi bekerja mengurus manusia?   Karena itu kalau Anda sudah tak kuat, diam, menjauh dan ambil jarak, itu sedikit bisa menenangkan hidup Anda.   Muhammad bin Sirin, salah satu tabi’in berkata,   ” كُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ خَطَايَا أَفْرَغُهُمْ لِذِكْرِ خَطَايَا النَّاسِ “   Artinya; “Kita bicara, dan sungguh manusia yang paling banyak salahnya adalah orang yang sibuk menyebut-nyebut kesalahan manusia.”   Ya begitu, serumit-rumitnya makhluk Tuhan itu manusia, manusia itu baiknya saja terlihat jeleknya, apalagi kejelekannya.   Sehingga berurusan dengan manusia adalah hal yang paling rumit dan menjengkelkan, nyatanya pejabat politik tidak hentinya diolok-olok rakyat mau sebaik apapun mereka.   Maka Anda kalau pingin stres berat dan punya masalah berat, banyak-banyaklah berurusan dengan manusia.   Nah kalau sudah tidak kuat, beristirahatlah dengan diam, menjauh dan membatasi jarak, itu akan sedikit mengistirahatkan Anda.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity

2024

BUKAN KRIMINAL TAPI YA JAHAT

Seperti apa menyakitkannya di hati bahkan bisa jadi trauma dan dendam seumur-umur, mereka anak-anak kecil disuruh mengemis di lampu merah, disuruh merendahkan dirinya minta belas kasihan.   Tentu betapa sakitnya hati mereka, karena di luar sana anak-anak sebayanya terima kemuliaan dari orang tuanya, ada yang sedang travelling luar negeri, ada yang sedang umrah, ada yang sudah terima fasilitas hidup terbaik, sebab orang tuanya memilih kekayaan sebagai pilihan hidupnya.   Atau anak masih bayi sudah dibawa kesana-kemari sebagai alat orang tuanya minta-minta belas kasihan orang.   Atau anak ketika kecil pingin jajan saja dipelototi boros, sedikit nakal diancam-ancam, sesudah gede diwajibkan kerja keras agar setor uang bulanan.   Atau istri kerepotan harus banting tulang sambil susui anak karena tidak kecukupan.   Atau keluarga sakit-sakitan tetapi tidak diobatkan karena tak ada biaya, akhirnya hanya mengandalkan Paramex dan Bodrex sebagai obat harian.   Atau anak gadis dipaksa nikah dini agar orang tua segera lepas dari tanggung jawab nafkah.   Atau anak-anak terpaksa putus sekolah karena terbatasi biaya, bergaul dengan teman-temannya pun dia minder, karena teman sebayanya masih sekolah, sementara dia sudah harus kerja.   Saya dan Anda dan banyak manusia yang alami salah satu efek keniskinan seperti di atas, kan? Bukankah menyakitkan sekali?   Sampai tua bisa trenyuh bahkan bisa hingga reteskan air mata ketika mengingat peristiwa-peristiwa menyayat tersebut.   Coba Anda ingat-ingat, menyakitkan, kan?   Itu semua petunjuk bahwa miskin itu sebenarnya jahat. Jahat secara kemanusiaan walaupun itu bukan kriminal.   Sejahat itu masih banyak orang punya mindsett kalau miskin adalah jalan ekstra masuk surga. Atau malah berpikir, “Sudahlah, kemiskinan itu tidak perlu diubah, itu adalah ladang pahala bagi yang mengalaminya.”   Atau berpikir, “Menjadi kaya itu banyak hisab  nanti di akhirat. Kenapa kita tidak menerima apa adanya dan kenapa harus berambisi kejar-kejar harta?”   Cobalah yang punya mindsett bahwa kemiskinan itu adalah kesalehan spiritual, renungkan betapa jahatnya kemiskinan.   Lah kok semenyakitkan itu narasi kalimatnya? Ya agar Anda terluka dan tercambuk lalu berubah pola berpikirnya, kemudian bertekad bangkit.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity

2024

BUKAN ORANG SEDARAH, TAPI ORANG LAIN YANG SETIA BERSAMA ANDA

Anak bersama Anda paling hingga dia berusia antara 20 – 30 tahun. Selanjutnya ia akan hidup bersama orang lain yakni pasangan nikahnya.   Orang tua dan saudara-saudara Anda juga begitu, mereka hidup bersama Anda paling hingga Anda berusia antara 20 – 30 tahun.   Selanjutnya orang yang akan setia mendampingi Anda, bahkan yang merawat dan memperjuangkan Anda adalah orang yang sebenarnya bukan siapa-siapanya Anda, dia adalah pasangan nikah Anda.   Pasangan nikah itu bukan siapa-siapanya Anda sehingga dalam fikih Islam mereka disebut ajnâbi yakni orang lain di luar hubungan kekerabatan yang halal dinikah.   Hidup bersama anak, bersama orang tua, bersama keluarga, dan orang-orang sedarah yang dahulu kita terlahir dan terhubung dengan mereka hanya antara usia antara 20 – 30 tahun, namun selanjutnya orang yang mendampingi Anda, mengawal.dan sekomitmen dengan Anda justru orang lain yang tidak terhubung apapun dengan Anda.   Ketika Anda dalam kesulitan atau kemudahan, Anda dalam susah maupun senang, pendamping yang seiya sekata mendampingi visi dan misi Anda, pasangan nikah lah yang selalu pasang badan bersama Anda. Bahkan kebanyakan pasangan nikahlah yang konsisten memperjuangkan Anda.   Anda lihat saja, saat mereka telah menua, anak dan keluarga lainnya entah pergi kemana, sibuk dengan urusannya masing-masing, pasangan nikahlah yang konsisten menjadi perawat gratis di masa-masa manula Anda.   Dia yang tulus menemani Anda hingga di masa-masa tua Anda, di saat semua orang-orang yang sedarah dengan Anda meninggalkan Anda.   Kalau dirunut, siapa sebenarnya orang di luar diri Anda yang paling menghargai Anda? Ternyata itu bukanlah anak, bukan saudara, bukan orang tua tapi ternyata dia adalah orang lain itu, yakni pasangan nikah.   Bayangkan layak dilaknat atau tidak, orang yang mengigit lengan orang yang mendulangkan makanan ke mulutnya atau orang yang dengan sengaja membocorkan kapal yang ditumpanginya?   Dia layak untuk sangat terkutuk dan terlaknat, sebab dia mencelakai orang yang berjasa baik dan menghargai dirinya.   Sebab itu orang terbodoh dan layak terkutuk hidupnya adalah orang yang tidak sadar untuk menghargai pasangan nikahnya, orang yang sia-siakan pasangan nikahnya, yang tidak memprioritaskan menghargai pasangannya,   sebab pasangan nikahlah yang sebenarnya dia bukan siapa-siapanya Anda, tapi ternyata dialah yang komitmen seiya sekata hidup bersama kekuarangan dan kelebihan Anda.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity

2024

SAAT BANYAK DUIT TAK CUKUP, APALAGI SAAT CEKAK DUIT

  إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا رَزَقَهُ كَفَافاً   “Sungguh ketika Allah mencintai hamba-Nya, Dia memberinya kecukupan rezeki.” (H.R. Abu Syaikh dan Ad-Dailami dari Imam Ali)   Tanda Anda dicintai Tuhan, itu rezeki Anda akan kecukupan. Disini cukup ya, bukan kaya atau miskin, karena yang duitnya banyak tapi kekurangan duit itu banyak. Apalagi yang duitnya sempit, kalau kemudian dia kekurangan duit itu sangat masuk akal.   Namun bila Anda dicintai Tuhan, Anda akan kecukupan rezeki sesuai level Anda, sederajat sepangkat. Bila level Anda sudah harus jalan-jalan luar negeri, walaupun Anda tak punya duit, ya Anda akan dicukupkan.   Bila level Anda punya mobil lima, walaupun Anda tak punya duit, ya dicukupkan. Bila level Anda punya hutang banyak, misal karena Anda pebisnis, ya Anda dicukupkan untuk membayarnya. Tak ada yang berat untuk mencapai kecukupan Anda.   Bila level Anda miskin secara materi, tetapi miskin Anda tidak bisa menghinakan ataupun melemahkan Anda. Anda boleh pas-pasan tapi tak ada orang yang bisa melihat Anda kekurangan dan perlu dikasihani.   Miskin yang dicintai Tuhan itu Anda akan selalu cukup, tetap terhormat. Boro-boro Anda meminta-minta, merepotkan orang pun tidak.   Jadi kalau kondangan saja Anda kerap kebingungan duit, atau banyak kebutuhan hidup Anda yang terasa cekak tidak tercukupi, dan parah lagi Anda sampai terhina karena ketidakpunyaan Anda, itu tanda Anda tidak dicintai Tuhan.   Saat begitu, perbanyak istighfar kepada Tuhan dalam jangka panjang dengan konsisten, karena istighfar dengan tulus itu satu-satunya jalan mengambil simpati Tuhan. Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity

2024

MEMBANGUN SISTEM HILIRISASI UANG

Dalam pitutur Jawa diistilahkan, “Banyu malahan miline maring segara,” yang artinya “air malahan mengalirnya ke lautan”.   Sejak awal penciptaannya lautan sudah tercipta penuh air, tak ada lautan yang kekuarangan air. Boleh disebut lautan adalah tempat keberlimpahan air.   Namun justru seluruh air yang ada di daratan bumi ujung-ujungnya mengalir ke lautan. Yang sudah berlimpah air malahan sekalian menjadi obyek hilir seluruh aliran air.   Kalau dilihat dari sisi kebutuhan, apa lautan butuh aliran air dari daratan bumi? Dirinya sudah berkelimpahan air, bagaimana dia butuh dialiri air? Namun yang terjadi justru suluruh aliran air tersistem mengalir ke lautan.   Kalau cari adil, gurun pasir yang tandus itulah bagian alam semesta yang sangat butuhkan air, namun gurun tandus malahan sama sekali tidak dialiri air kecuali sedikit sekali dan sangat terbatas.   Lautan yang sudah berlimpah air malahan sekalian dilimpahi air, gurun tandus yang kering air malahan sekalian tidak dialiri air. Ini mekanisme paten alam semesta.   Uang pun begitu. Di Pemilu, tokoh politik yang sudah kaya dan populer, sekali mendatangi panggung kampanye, diberi amplop tebal, yang kaum fakir paling peroleh kaos oblong murah dan recehan seratus ribuan.   Mall yang megah didatangi ribuan pengunjung setiap harinya, warung kaki lima paling didatangi satu dua orang setiap harinya. Kaum fakir paling terima bansos senilai seratus ribu, yang pejabat kaya malah terima hadiah ratusan juta.   Jadi mekanisme keberlimpahan uang itu sama persis seperti lautan, yang sudah penuh uang malahan didatangi uang berlimpah-limpah, dan yang fakir uang malahan sedikit sekali didatangi uang, persis seperti gurun tandus didatangi air.   Rumusnya, yang banyak uang malahan didatangi uang makin banyak, yang paceklik uang sekalian terbatas sekali didatangi uang.   Nah mau tahu bagaimana mendatangkan uang berlimpah dalam hidup Anda?   Mendatangkannya itu harus dengan uang. Panggil uang dengan uang. Uang Anda makin banyak justru uang yang terpanggil datang juga akan makin banyak.   Cobalah konsisten ada uang di rekening Anda atau di dompet atau di celengan, yang Anda bisa memastikan tidak digunakan untuk apapun. Uang tersebut fungsinya sebagai obyek hilirisasi uang yakni sebagai lautan yang berlimpah air.   Makin banyak jumlah uangnya akan makin baik. Umpama uang hilirisasi tersebut terpakai, pastikan Anda bisa menggantinya.   Umpama bukan uang juga bisa, yang penting bentuk harta benda, entah emas, entah tanah, entah saham, entah mobil, dan apaun juga, yang penting bertahanlah untuk selalu punya harta berharga dan syukur meningkat dari waktu ke waktu, karena yang akan memanggil harta adalah harta, air justru mengalirnya ke lautan yang berlimpah air.   Apa hal yang begitu tidak menumpuk-numpuk harta? Hal itu sudah sering saya bahas. Menumpuk harta atau tidak itu tergantung niat dan kesadarannya.   Kalau niat dan kesadarannya untuk memberdayakan diri agar kehidupan finansial Anda lebih berkulaitas ditambah “karena Alllah” ya itu bukan menumpuk harta tapi ibadah.   Sebaliknya kalau niat dan kesadarannya karena sayang dengan harta sehingga terobsesi menumpuk dan menggenngamnya, ya itu yang disebut kanzul mâl alias menumpuk harta.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan Spiritual Prosperity

2024

ENERGI SENTIMEN ITU TANDA KEBESARAN

Pilpres itu kompetisi politik kekuasaan. Kompetisi digerakan oleh energi gesekan alam semesta.   Hukum gesekan Coulomb menjelaskan prinsip dasar energi gesek bahwa gaya gesekan antara dua benda yang bersentuhan sebanding dengan gaya normal antara kedua benda tersebut.   Artinya, semakin besar tekanan antara kedua benda, semakin besar gaya gesekan yang dihasilkan.   Sebab ini, manusia yang memiliki energi besar, ia pun akan punya gaya gesekan besar dalam kehidupannya. Efeknya hidupnya banyak terimbas energi sentimen.   Tak tau apa sebabnya, tiba-tiba jadi target cacian, dengki, serangan dan propaganda. Tak tahu riwayat kronologinya, tahu-tahu dirinya dikucilkan, digunjing, dicurigai, dan disentimeni. Dan seterusnya.   Yusuf AS punya energi besar sebagai anak shaleh yang sukses, tidak tahu apa-apa sejak kecil sudah disentimeni oleh 10 saudara-saudara tirinya.   Yusuf satu getaran energi besar dengan ayahnya, Ya’qub AS, hal ini yang sebabkan energi gesekan besar kepada kesepuluh saudara tirinya. Dari gesekan energi tersebut, Yusuf berproses menjadi orang besar.   Daud AS punya energi besar sebagai raja, beliau sesudah berhasil membunuh Goliat (Jalut), beliau diambil menantu oleh Raja Saul (Thalut).   Namun sesudah Daud jadi menantunya, Raja Saul justru merasakan energi gesekan besar dari menantunya, karena makin hari dukungan politik untuk Daud dari rakyat Kerajaan Israel pada waktu itu makin besar.   Efeknya Daud harus menghadapi sentimentil mertuanya sendiri. Dan sentimentil mertua itulah yang kemudian menjadi proses Daud menjadi orang besar.   Yusuf dan Daud itu contoh muatan energi besar kebaikan. Saya tidak mengatakan hanya energi besar kebaikan saja yang berefek punya energi gesekan besar, namun energi besar kejahatan juga demikian, punya energi gesekan besar yang berpengaruh pula memunculkan energi sentimen besar.   Dajjal itu energi jahat besar, mulai sejak zaman para nabi terdahulu, para nabi sebagai pemilik energi kebaikan besar, mereka sudah punya rasa sentimen kepada Dajjal, buktinya tidak ada para nabi yang diutus Tuhan yang tidak memperingatkan akan munculnya Dajjal.   مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّةُ الْأَعْوَرَ الْكَذَّابَ، أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، وَمَكْتُوْبَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ: “ك ف ر”.   “Tidak ada seorang nabi pun, kecuali dia telah mengingatkan umatnya dari si buta sebelah yang pendusta (Dajjal). Ketahuilah sesungguhnya Dia buta sebelah dan sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah, di antara kedua matanya tertulis; ‘Ka-Fa-Ra’.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)   Dajjal muncul juga belum, dan hingga sekarang tidak diketahui dimana dia berada, tak pasti pula kapan munculnya, eeh dari dulu hingga kini sudah disentimeni besar.   Zionis Israel hanya berapa juta orang, melawan organisasi Hamas yang hanya berapa ribu orang, namun menggegerkan seisi dunia, itu artinya konflik Israel vs Palestina itu energinya besar.   Kalau Anda belajar ilmu aura tubuh, orang yang punya aura bagus itu cirinya dia dibenci tanpa sebab, suka dikepoin orang, apa yang dipakai terlihat bagus,   style sederhana tapi banyak diikuti, orang-orang suka tidak percaya kalau Anda sedang tidak punya uang, dijauhi tanpa sebab, sering digosipin, Anda suka berbagi, kreatif dan selalu punya ide menarik, dan punya rasa percaya diri.   Coba amati, aura seperti di atas bagi hatters kan sangat memicu energi sentimen? Dan sebaliknya bagi fans akan menghipnosis?   Ya begitu, tanda Anda punya energi besar, Anda akan menarik sentimen besar dalam kehidupan.   Anda merasa sekarang ini hidup Anda tenang? Sedikit sentimen, sedikit cercaan, sedikit gosip, sedikit masalah, sedikit tekanan? Jangan bangga. Itu justru tanda Anda tidak punya energi besar.   Masih mau cari damai sejahtera? Bahagia dan tenang? Wkkkkk.   Anda amati saja, dulu di Pilkada DKI, Anies Baswedan diserang energi sentimen besar, dia diisukan bermain politik identitas, eeh justru Anies Baswedan yang terpilih jadi Gubernur DKI Jakarta.   Dulu Jokowi diserang energi sentimen besar, diisukan PKI dan isu macam-macam, dia yang terpilih 2 periode.   Dulu Donald Trump pada Pilpres AS tahun 2016 diserang energi sentimen besar, kampanyenya dinilai kasar dan menjatuhkan dan memicu kebencian ras dan agama, tapi nyatanya waktu itu dialah yang terpilih melenggang ke Gedung Putih.   Kenapa yang terpilih justru mereka yang paling banyak dapatkan sentimen publik? Ya karena sentimen besar dari publik itu tanda dia punya energi besar yang efeknya memicu gesekan besar, banyak pihak yang tergesek energi powernya.   Nah Pilpres 2024 ini ciri pasangan capres dan cawapres yang terpilih juga begitu. Cirinya dia yang paling banyak disentimeni oleh publik.   Pasangan capres dan cawapres yang adem ayem, damai sejahtera, lancar tanpa sentimen, jangan berharap terpilih.   Eeh Anda masih mau hidup damai, tenang, tenteram, silir spoi, enggak? Wuakakkkk.   MUHAMMAD NURUL BANAN   Gus Banan

2024

MEMBERDAYAKAN DIRI DENGAN ENERGI PRIVILEGE

Nabi Isa AS masih bayi merah sudah keluarkan mukjizat bisa bicara.   Orang-orang Yahudi bertanya-tanya tentang siapa bayi itu. Tetapi Maryam tidak menjawab pertanyaan mereka. Terlebih Maryam sudah bernazar tidak berbicara dengan siapa pun.   Atas petunjuk Allah SWT, sayidah Maryam menunjuk kepada putranya supaya berbicara menjelaskan. Tetapi orang-orang Yahudi itu masih bertanya-tanya bagaimana mereka bisa bicara dengan bayi.    فَاَشَارَتْ اِلَيْهِۗ قَالُوْا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِى الْمَهْدِ صَبِيًّا   “Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” (QS Maryam ayat 29).   Atas karunia Allah SWT, Nabi Isa yang masih bayi dan dalam gendongan ibunya itu berbicara dan menjelaskan kepada orang-orang Yahudi bahwa ia adalah hamba Allah SWT.   Dan bahwa Allah SWT akan memberikan kepadanya kitab Injil. Dan Allah SWT akan menjadikannya seorang nabi.    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ   “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.”  (QS Maryam ayat 30).   Imam Ibnu Katsir berkata bahwa ini adalah kalimat yang pertama diucapkan nabi Isa putra Maryam. Dan kata awal yang diucapkan nabi Isa adalah “Inni ‘Abdullah,” atau, “Aku adalah hamba Allah.”   Cerita ini menunjukan energi privilege di alam semesta itu nyata ada. Bagaimana bisa bayi merah yang kenal arti zuhud belum, kenal zikir kepada Allah juga belum, apalagi pernah melakukan amal shalih, kok tiba-tiba punya kekeramatan layaknya orang suci yang telah menempa spiritual selama puluhan tahun?   Secara spiritual bayi Isa putra Maryam itu kerja spiritual, apa? Isa peroleh mukjizat bisa bicara karena peroleh energi spiritual secara privilege dari ibunya.   Artinya yang selama ini taat kepada Allah dengan ketat dan istiqamah itu ibunya, yang berlaku zuhud itu ibunya, yang menempa spiritual itu ibunya, namun putranya yang kemudian terima limpahan energinya.   Jadi wajar kalau dimana-mana, baik dalam skala politik nasional maupun daerah, di Indonesia juga di luar negeri muncul fenomena politik dinasti, dimana orang tuanya yang bekerja tekun dalam politik, lalu anaknya yang masih ingusan berada selevel energi politik dengan orang tuanya.   AHY dengan mudah duduk di ketum Partai Demokrat. Megawati kokoh di singgasana PDIP karena privilege dari energi PNI di masa Soekarno.   Lee Hsien Loong kokoh di kursi perdana menteri Singapura karena energi privilege Lee Kuan Yew. Goerge Walker Bush yang membangun politik di negara paling liberal demokrasinya;   USA, juga melenggang menjadi presiden karena ada energi politik privilege dari ayahnya George Bush.   Jadi pantas ada wali kota belum ada 3 tahun, usia masih bkcah, pengalaman politik masih minim, tiba-tiba naik jadi capres, itulah energi privilege.   Setiap orang punya akses energi privilege karena setiap orang lahir dari keturunan. Keturunan tukang pijat akan mudah mengakses energi privilige ilmu pijat beserta pasarnya.   Dia tidak pernah kursus pijat, tiba-tiba bisa memijat dan punya pengetahuan struktur urat dan otot tubuh, dan antiknya lalu pijatnya laku di pasar.   Tukang jahit begitu, tukang bangunan begitu, petani begitu, guru begitu, ulama begitu, pejabat begitu, politik begitu, dan seterusnya. Jadi Anda semua punya akses spesial ke energi privilege.   Masih mau cemburu dengan Gibran Rakabuming Raka? Wuakkk   Tidak usah cemburu, Anda punya akses energi privilege sendiri-sendiri kok.   Oke. Selama ini Anda sering dimotivasi untuk tidak melihat siapa bapak Anda agar Anda bangkit tanpa melihat siapa leluhur Anda, tidak tumbuh menjadi orang berkecil hati;   لَيْسَ الْفَتىَ مَنْ يَقُوْلُ كَانَ أَِبيْ، وَلـٰكِنَّ الْفَتىَ مَنْ يَقُوْلُ هٰـأَنَاذَا   “Bukanlah pemuda yang mengatakan inilah bapakku. Akan tetapi, pemuda adalah orang yang mengatakan inilah aku.” (Syair Ali bin Abi Thalib).   Dan terbukti, banyak kok orang yang mampu menjadi perintis nasab hebat yang selanjutnya mampu mewariskan energi privilege ke keturunannya.   Ken Arok bukan keturunan raja, ia merintis nasab rajanya sendiri. Banyak orang besar lahir tanpa akses privilege dari orang tuanya, ia membangunnya sendiri.   Namun sebenarnya energi privilege itu juga energi positif hidup ketika Anda mampu menggunakannya dengan baik.   Seorang sahabat saya punya otak bebal sekali, IQ-nya rendah. Di pesantren boro-boro dia menonjol, tidak naik kelas sudah jadi langgganan.   Namun dia putra ulama besar, mau putus asa dia merasa, “Aku anak ulama besar, masa tidak bisa sukses kuasai ilmu agama? Masa aku tidak betah di pondok pesantren?”   Rasa provilege anak ulama besar itu yang terus dia bangun, hasilnya sebodoh dan sepayah apapun dia tetap bertahan di pesantren, dan hasilnya kebesaran keulamaannya justru melampoi ayahnya karena dia teruji tahan banting tetap semangat menuntut ilmu walaupun otaknya bebal.   Teman saya yang lain bolak-balik alami bangkrut dalam bisnis, terjebak hutang juga tidak sekali dua kali, namun setiap kali dia bangkrut terpuruk dengan lantang dia ngomong, “Bapakku pengusaha besar, masa aku melarat.” Hasilnya dia muncul sebagai pebisnis besar juga.   Ada teman saya lagi menempati rumah kosong yang lama tak dihuni. Setelah dia beli lalu dia merenovasinya. Saat merenovasi saja, teror makhluk halus penghuni rumah kosongnya terus saja datang.   Namun dia merasa keturunan orang sakti, dia kerap berstatement, “Saya cucunya Ki Wardoyo, orang tersakti di sini, masa saya kalah.” Hasilnya makhluk halusnya yang kabur.   Termasuk Zionis Israel mengapa mereka bisa mendirikan negara Israel di tengah kepungan negar-negara Arab? Karena mereka merasa, “Kami adalah keturunan orang-orang terpilih. Kami bangsa terpilih.”   Hasilnya mereka melenggang mendirikan negara zionis di wilayah yang sudah mereka tinggalkan hampir 2000 tahun dan sudah ditempati 2000 tahun pula oleh bangsa Arab Palestina.   Ekonomi dunia dikuasai, politik dunia dikuasai, tehnologi mereka rajai, bahkan mereka bisa seenaknya jalankan politik apartheid, pemicunya ya karena mereka punya akses rasa privilege.   Jadi energi privelege itu hal yang tidak perlu Anda nafikan, itu nyata utuh adanya. Yang jadi masalah itu ketika energi privilege jadikan Anda sombong dan adigang adigung adiguna seperti Zionis Israel.   Atau malah jadikan Anda tidak punya kualitas hidup, misal dimana-mana mengaku keturunan Pangeran Diponegoro tapi beras saja ngutang mengemplang, itu namanya malu-maluin kakekmu.   MUHAMMAD NURUL BANAN   Gus Banan

2024

BILA SATU HAL INI PUTUS, KEKAYAANMU BUBAR SEMUA

Setiap mengobrol dengan orang kaya yang mereka bicarakan selalu beban keuangan yang besar. Walaupun mereka tidak terlihat berat menanggungnya, tapi itulah obrolan mereka. Obrolwn ya, dan saya tidak mendeteksi sebagai keluhan.   Ada yang mengaku setiap hari harus tarik tunai ATM minimal 3 juta. Ada yang mengaku kebutuhan pengeluarannya ratusan juta tiap bulan.   Ada yang mengaku untuk gaji karyawan butuh sekian ratus juta tiap bulannya. Ada yang mengaku hanya untuk listrik satu rumah mewahnya butuh sekian juta tiap bulannya. Dan lainnya.   Saya pernah jelaskan bahwa orang makin kaya maka bebannya makin besar. Ketika pakai motor kebutuhan bayar pajak hanya ratusan ribu, sesudah punya mobil di angka beban pajak jutaaan.   Ketika miskin cuma menjadi gantungan hidup anak istri, sesudah kaya menjadi gantungan hidup banyak orang, dari karyawan, relasi bisnis bahkan fakir miskin bergantung hidup padanya.   Ketika miskin, kenal sandal kulit harga 200 ribuan, sesudah kaya kenal sandal kulit harga belasan hingga ratusan juta.   Saat miskin biaya plesiran cukup di taman kota dengan biaya ratusan ribu, seusudah kaya plesiran ke luar negeri dengan biaya ratusan juta. Artinya makin kaya justru beban kebutuhannya makin besar.   Ya begitu, datangnya nikmat kaya itu beserta datangnya besarnya beban kebutuhan. Tepat sesuai sabda Nabi SAW;   ما عَظُمَتْ نِعْمَةُ اللَّهِ عَلى‏ عَبْدٍ اِلاَّ عَظُمَتْ عَلَيْهِ مَؤُونَةُ النَّاسِ ، فَمَنْ لَمْ يَحْتَمِلْ تِلْكَ الْمَؤُونَةَ فَقَدْ عَرَّضَ النِّعْمَةَ لِلزَّوالِ   “Nikmat Allah atas seorang hamba tidaklah besar kecuali besar pula beban kebutuan manusia atasnua. Maka siapa yang tidak berani menanggung beban kebutuhan tersebut, maka ia benar-benar menghadapi hilangnya nikmat tersebut.” (H.R. Abu Nu’aim & Ibn Najjar).   Nah sangat jelas, nikmat kekayaan datang beserta datangnya besarnya beban kebutuhan, dan hal yang akan melenyapkan kekayaan Anda adalah bila Anda plin-plan membiayai beban-beban kebutuhan tersebut.   Misal Anda sudah biasa bayari karyawan di angka 10 juta tiap bulan, karena merasa berat lalu Anda berpikir, “Sudahlah, lima juta saja, karyawan lainnya saya offkan,” ya sudah pada saat itu angka kekayaan Anda akan menurun.   Misal lagi, biasa biayai wi-fi 700 ribu tiap bulan, lalu karena merasa berat, lalu Anda berpikir, “Sudahlah, turunkan kuotanya, ambil yang 350 ribu saja,” saat itu dilakukan ya sudah saat itu angka kekayaan Anda akan menurun.   Jadi satu hal yang membubarkan kekayaan Anda adalah mundur dari beratnya beban biaya kebutuhan karena sudah sunnarullah bahwa nikmat besar Allah yang diturunkan atas seorang hamba itu satu paket dengan turunnya beban besar biaya kebutuhan.   Karena itu untuk meminimalisir turunnya angka kekayaan Anda perlu membangun rasa bangga punya tanggungan biaya hidup yang besar.   Iya bangun rasa bangga supaya ketika tanggungan biaya hidup Anda menurun dan berkurang justru Anda merasa tersinggung.   Mau kaya kok kasih makan dua anak satu istri saja mengeluh mengaku berat, ah itu orang model pesakitan rezeki.   MUHAMMAD NURUL BANAN   Gus Banan

Scroll to Top