JUNI 2023

JUNI 2023

TERAPI MENARIK REZEKI DENGAN RASA

Rasa itu sebuah getaran yang tidak dapat Anda kontrol, cenderung bergetar dengan sukarela.   Bila di dimensi gerak fisik ada gerakan sukarela yakni gerakan yang tidak dapat Anda kontrol, seperti berak dan pipis, maka di dimensi getaran itu ada rasa.   Anda tidak bisa kan mengontrol pipis dan berak Anda? Kalau bisa mengontrol, cobalah Anda buat jadwal berak dan pipis. Jam 2 siang jadwalnya berak, tapi belum kebelet, lalu mau Anda paksa keluarkan berak? Tidak bisa. Berak bergerak sukarela tanpa kontrol Anda.   Demikian pula rasa, getarannya sukarela dan cenderung tidak dapat Anda kontrol.   Karena ini siapa sih yang ingin menyintai suami orang? Dan siapa sih yang ingin berbagi hati antara istri dan pacar? Tidak ada. Namun ya begitu itu getaran rasa, tidak dapat dikontrol dan bergetar sukarela.   Siapa yang ingin menyimpan rasa cinta dengan mantan pacar di saat ia telah menikah? Namun kenyataan di antara Anda banyak kan yang suka kepo akun Facebook mantan?  Ya begitu itu getaran rasa, ia bergerak tanpa peduli etis atau tidak, layak atau tidak, logis atau tidak, benar apa batil, bahkan tidak peduli susah atau senang.   Dalam legenda Layla Majnun, lah seperti apa sedihnya Qais memanggul rasa cintanya pada Layla?  Menyintai perempuan sampai ia dilabeli Majnun. Rasa tetap bergetar tanpa kontrol tidak mau peduli walau itu adalah derita yang paling pahit.   Rasa itu yang kondisinya persis seperti Anda yang menyintai suami orang, atau Anda yang berbagi hati antara istri dan pacar, ia primitif, bego dan dungu, tidak dapat dikontrol oleh dirinya sendiri.   Karena itu Anda yang punya “rasa kaya” juga rezekinya cenderung primitif, bego dan dungu. Tahu-tahu bisnis sedang sepi, eeh duitnya ngalir dari jalan yang tidak disangka-sangka, tahu-tahu ada lockdown, eeh orderan malah membludak. Itu rezeki dari tarikan rasa.   Rezeki dari tarikan rasa ini yang kita kenal dengan mekanisme rizqi min haitsu lâ yahtasib.   Maryam ibunda Isa A.S, sebagai perawan suci ia menempat di Mihrab Zakaria, kamar ibadah yang Maryam tidak bisa keluar untuk kerja. Namun aneka rezeki selalu hadir di mihrab tempat tinggalnya. Itu rezeki dari tarikan rasa, artinya Maryam itu pemilik rasa kaya.   Khidhir A.S, konon hidup di dalam air. Dinalar dengan logis, hidup di air bagaimana beliau masak makanan, menyalakan api saja tidak bisa? Lah dari mana rezekinya? Nah itu juga rezeki tarikan rasa kaya.   Rasa kaya itu namanya juga bagian dari rasa hati, ia persis seperti rasa cinta, seperti rasa benci, bergerak sukarela tanpa kontrol diri apalagi kontrol lingkungan ekonomi.   Rasa kaya, bagaimana terapinya agar terlatih krsana? Rasa kaya itu rasa di mana Anda merasa menjadi orang kaya, itu saja.   Dalam hadits Nabi S.A.W jelas disampaikan agar Anda dalam urusan harta supaya mengamati orang-orang di bawah Anda, tujuannya apa? Supaya di dalam hati Anda terbangun rasa telah banyak dianugerahi oleh Tuhan.   Duit sedang seret, misalkan, lalu Anda mengamati tetangga yang duitnya seret sekaligus banyak hutang, yang di hati Anda itu rasa apa? Tentu rasa cukup telah dianugerahi.   Nah rasa kaya itu berarti rasa dimana Anda merasa telah dianugerahi kekayaan, dianugerahi rezeki oleh-Nya. Itu saja.   Hanya saja masalahnya Anda kan lebih banyak fokus kepada kesulitan dan kekhawatiran daripada fokus pada kebaikan yang telah Anda terima. Kemerungsung terus, itu masalahnya.   Mau terapi bagaimana bangun rasa kaya? Ya itu tadi kerap-kerap amati dan renungi orang-orang di bawah Anda dalam persoalan harta.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

UANG KELUAR SESUAI JALAN MASUKNYA

Ada kaidah mengatakan;   خرج المال من حيثما دخل   Bahwa uang itu cara keluarnya sesuai cara masuknya. Artinya bagaimana cara uang itu keluar itu indikasi bagaimana cara uangnya masuk.   Kaidah tersebut hukum alami saja. Makanan yang masuk ke dalam tubuh saya, keluarnya pun dari tubuh saya pula, tidak mungkin makanan masuk lewat mulut saya, lantas keluarnya lewat anus orang lain.   Anak masuk ke rumah Ganjar Pranowo, keluarnya pun harus dari salah satu pintu rumahnya. Uang keluar sesuai cara masuknya, itu hukum paten alam.   Jika uang masuk dengan cara kotor, keluarnya pun dengan cara itu juga, jika uang masuk dengan cara-cara bersih, keluarnya pun dengan cara itu pula.   Anda sulit menemukan penjudi, pembegal, koruptor, perampok, dan lainnya yang berkemampuan keluarkan uang untuk hal-hal yang shaleh. Keluarnya uang mereka untuk kabur lari polisi, main wadon, dunia malam, dan lainnya.   Tidak ada datanya uang haram bisa konsisten untuk biayai perlombaan dalam kebaikan. Kalaupun mengalir untuk kebaikan, itu hanya sekedar bermain ilusi saja, misal penjudi amal jariyah untuk pembangunan masjid ya sekedar bermain ilusi prasangka orang, aslinya sekedar tutupi cacat, cari panggung dan cuci diri.   Uang keluar sesuai cara masuknya bukan Cuma masuk dengan cara haram maka akan keluar untuk hal yang haram saja, namun lebih jauh dari itu energi berkah atau tidaknya uang yang masuk, juga bisa terindikasi dari tingkah cara keluarnya uang.   Banyak artis terkena Narkoba dan kawin cerai itu karena cara masuknya uang mereka dari dunia glamour.   Dunia glamour itu dunia yang dunia penuh glamour, hura-hura, suka cita, namun itu hanya ilusinya saja, hakikatnya adalah dunia kegelisahan, kegersahan, dan duka lara yang jauh dari ketenangan hati dan bahagia.   Iya, orang lain sedang istirahat di malam hari, bahkan sebagian ada yang gunakan untuk  bermunajat dengan Tuhannya, di dunia glamour waktu tersebut sedang digunakan untuk menarik uang di dunia gemerlap malam.   Masuknya dengan jalan itu, keluarnya pun untuk jalan itu pula sehingga ketika mencoba mengonsentrasikan uang mereka sekedar untuk nafkahi istri halal sudah tidak berkemampuan lagi, malah uangnya lari untuk nafkahi selingkuhan.   Tentu tidak semua artis seperti itu, karena yang berkarir di dunia hiburan tetapi meraih dengan cara profesional juga banyak, artis yang terjebak kawin cerai, selingkuh, narkoba dan dunia gemerlap lainnya itu tentu artis yang dominan hidup gemerlap daripada hidup dengan profesionalitasnya.   Orang rakus itu orang yang cara masuknya uang dengan jalan memeras orang lain, maka jalan keluar uangnya pun untuk memeras dirinya sendiri.   Arah keluarnya energi uang justru bukan mengkayakan dirinya dan keluarganya, namun malahan untuk memiskinkan dirinya dan keluarganya.   Ya contoh kecilnya saking rakusnya dengan uang dia memperdaya saudaranya agar tanah milik saudaranya menjadi miliknya dengan merampas dan memalsukan akte tanah, nanti jalan keluar uangnya pun ya paling-paling untuk biayai pelanggaran hukumnya menjadi mafia tanah.   Sesudah dia dihukum, karena ia telah merampas hak orang lain, dia masih harus ganti rugi kerugian yang dialami korban. Kan keluarnya harta malahan untuk hal-hal yang memiskinkan dirinya?   Uang keluar sesuai jalan masuknya, makanya kalau keluarnya pelit dan irit, itu jalan masuknya juga sedikit, kalau keluarnya dermawan, itu jalan masuknya juga penuh kelonggaran, kalau keluarnya happy, masuknya pun happy.   Sejauh mana energi keberkahan uang Anda, perhatikan jalan keluar uangnya. Jalan keluarnya itulah indikasi bagaimana jalan masuknya.     Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

INGIN LEBIH KAYA DAN KUASA ATAS ORANG YANG MENYAKITIMU?

Hal yang menurut saya paling menyakitkan itu nasehat ini, “Berbuat baiklah kepada orang yang berbuat buruk kepadamu.”   Loh kenapa saya sebut menyakitkan? Ya realitis saja, karena sangat berat diamalkan. Saya sendiri Cuma pernah sekali dua kali berkemampuan amalkan, lebih seringnya ngawur, hehehe.   Namun nasehat tersebut itulah fakta sebenarnya bagaimana Anda bisa lebih kaya dan lebih kuasa atas orang yang telah menyakiti Anda.   Sering saya sampaikan, kenapa Anda sebagai pembeli berkuasa penuh atas penjual? Anda bisa ngatur-ngatur, nyuruh-nyuruh, dilayani ini dan itu keperluannya, itu karena Anda sanggup membayar lebih kepada penjual.   Menginap di hotel, Anda bayar tuntas tarifnya, apa yang tidak dilayani oleh pihak hotel? Butuh apa saja tinggal hubungi reseptionis. Karena membayar, Anda begitu merdeka, menjadi raja mulia.   Orang yang menyakiti Anda itu orang yang meminta harga diri Anda. Peminta itu energi miskin karena ia minta-minta. Anda punya harga diri, lah kok diminta?   Meminta itu energi yang melemahkan diri. Pengemis gara-gara minta-minta, ia jadi seperti sampah harga dirinya, sudah memelas-melas minta dikasihani, kalaupun ditolak ia tak sanggup menawar apa-apa, dengan mengalah lemah dirinya menerimakan.   Orang yang menyakiti Anda sebenarnya frekuensi power energinya seperti pengemis, energinya lemah sekali, ia tidak punya kuasa dan kekuatan apa-apa karena dia sedang meminta harga diri Anda.   Andai Anda tidak mau berikan harga diri Anda kepadanya juga tidak apa-apa. Artinya Anda melawan sekuat tenaga, sebab tidak ada salahnya kan Anda menolak memberi kepada pengemis?  Hanya saja menolaknya jangan berlebihan, harus terukur sesuai keperluan menolak mudharatnya, sama saja menolak pengemis tidak boleh berlebihan sampai bentak-bentak kasar. No problem Anda melawan orang yang menyakiti Anda karena hakikatnya dia pengemis yang minta-minta harga diri Anda.   Cuma kalau Anda melawan, pertarungan energinya Cuma impas saja; 0:0. Sekarang bagaimana agar energi Anda lebih kaya dan lebih kuasa dari orang yang menyakiti Anda, artinya 0 berbanding 1,2,3 dan seterusnya?   Pihak hotel seketika berkenan merendahkan hati dan melayani Anda karena Anda membayar lebih kepadanya dengan beri keuntungan cuan kepada pihak hotel. Dengan cuan yang Anda berikan, mereka bisa hidup, mereka berjaya, mereka jadi tercukupi.   Anda berkuasa dan ditempatkan mulia oleh pihak hotel karena Anda berkemampuan bayar lebih. Berkemampuan bayar lebih itu artinya Anda berkemampuan berbuat baik lebih besar.   Saat Anda disakiti, yang menyakiti sedang berenergi miskin seperti pengemis karena dia meminta harga diri Anda, lah kok Anda malah berbuat baik kepadanya, Anda membayarnya lebih, kan power energinya jadi selisih berlipat ganda.   Saat Anda berbuat baik kepadanya, Anda berenergi kaya, sementara yang menyakiti Anda berenergi miskin. Orang kaya dan orang miskin itu lebih kuasa mana? Lebih terhormat mana? Lebih mulia mana? Kalau bertarung menang mana?   Ada orang pelit, Anda dermawani sekalian, dia keok. Ada orang menghina, Anda muliakan sekalian, dia keok. Ada orang mengolok-olok, Anda diam saja dengan sabar dan kuat hati, dia keok. Karena itu memaafkan adalah kekayaan terbesar. Sekali lagi memaafkan adalah energi kaya terbesar.   Kalau Anda sudah berbuat baik kepadanya, lah kok dia terus terusan nginjak lagi dan nginjak lagi, terus bagaimana? Anda sudah bayar lebih ke pihak hotel, lah kok pihak hotel bukannya melayani Anda tapi malah menghina Anda, yang terjadi ya kualat kuadrat.   Ya begitu, energi kaya versus energi miskin, maka energi miskin yang keok, energi membayar versus energi meminta, maka energi meminta yang keok, energi memaafkan versus energi mendendam, yang keok energi mendendam, kalau mereka masih macam-macam ya kualat sendiri.   Lah iya, Ferdy Sambo yang duitnya tajir seketika ambruk jadi orang miskin tak berdaya hanya karena ia berenergi miskin terlalu kuat, nyawa orang dia minta. Hasilnya dia yang punya jabatan tinggi kalah oleh keluarga Brigadir Josua yang ibunya hanya seorang guru honorer. Orang meminta energinya sangat lemah.   قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَكْرَمِ أَخْلاَقِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ؟ تَعْفُو عَمَّنْ ظَلَمَكَ وَتُعْطِى مَنْ حَرَمَكَ وَتَصِلُ مَنْ قَطَعَكَ   Nabi SAW bersabda; “Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang menzalimimu, memberi kepada orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu.” (H.R. Baihaqi)   Namun ya begini, orang Jawa bilang, “Ngono yo ngono ning yo ora ngono” artinya begitu ya begitu tetapi tidak begitu. Trik agar lebih kaya dan lebih kuasa di atas memang begitu, namun di situasi tertentu ada situasi yang Anda terkadang perlu ngamuk juga.   Situasi tersebut seperti ketika Anda menghadapi orang yang otaknya Cuma isi separo, otaknya itu tidak penuh oksigennya. Diberi kebaikan, malah dia ngelunjak-ngelunjak seenaknya. Makin dibiarkan, eeh makin semaunya berbuat seenak sendiri.   Ya model orang begitu benar energinya sudah miskin, sudah sangat lemah, tetapi otaknya Cuma isi separo jadinya sudah miskin tapi berlagak seperti orang kaya berkuasa yang selalu memberi. Dan seterusnya.   Kadang hadapi yang begitu ya Anda sekali waktu harus menaklukannya dengan perlawanan. Ibarat mematahkan besi itu harus dengan gorok bergigi kecil, namun kalau harus mematahkan baja besar ya harus dilelehkan dengan api sekalian.   Contoh Anda di jalan sepi sedang di mobil lalu dihadang begal, lantas begalnya Anda tabrak sekalian. Di situ Anda melawan keras, sebab terpaut dengan keselamatan harta dan jiwa Anda. Misal lagi bangsa Anda sedang dijajah, lantas Anda memberontak agar bangsa Anda merdeka, ya itu namanya misi perjuangan pahlawan.   Jadi begitu ya begitu, tapi tidak begitu juga, sekali waktu ada situasi dimana Anda sudah mengalah, diam, neriman, sudah utamakan berbuat baik, tapi otak si penzalim memang Cuma isi separo sehingga masih menginjak-injak, lalu Anda menyingkir dan menjauh masih diinjak-injak terus, ya di situ Anda harus berani melelehkannya dengan api seperti sedang memotong baja besar.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

BELANJALAH DI LEVEL MAKRIFAT AGAR MENARIK KEKAYAAN

Kemarin saya menulis di sebuah short video tentang belanja di level realita dan level rasa, namun karena saking singkatnya tentu banyak yang tidak terjelaskan, yang bertanya penasaran pun ada.   Di level realita alias syariat, belanja itu mengonsumsi, sehingga orang yang membeli disebut konsumen. Diksi yang digunakan adalah konsumsi, berarti di level realita, belanja tercipta karena didorong suatu kebutuhan.   Butuh itu tanda kemiskinan dan kefakiran. Kalau Anda tidak fakir beras, tidak mungkin Anda mencari lalu membelinya. Kalau Anda tidak fakir uang, tidak mungkin Anda berkenan mencari untuk menerima uang. Jadi rasa butuh itulah indikator dari kemiskinan dan kefakiran.   Di level realita, belanja tentu karena butuh, namun jika di level rasa, Anda belanja karena Anda butuh, itu belanja Anda akan menarik kemiskinan, sebab butuh itu indikator utama kemiskinan dan kefakiran.   Anda bergerak belanja tetapi getarannya rasa fakir yakni rasa butuh ya tentu akan menarik realitas kefakiran dan kekurangan.   Orang belanja karena didorong kuat rasa butuh yang selanjutnya lahirkan sikap konsumtif, hedonis, dan shopaholic. Shopaholic sering disebut juga gangguan belanja kompulsif atau compulsive buying disorder (CBD).   Seperti kecanduan lainnya, pembeli kompulsif ini akan mengalami euforia sesaat ketika berbelanja.   Di hidup ini di antara Anda ada yang sanggup hidup tanpa belanja? Jelas tidak ada. Sementara belanja itulah identitas kefakiran karena dipicu kebutuhan.   Lalu bagaimana agar belanja Anda menarik kekayaan? Di sini, Anda harus otak-atik belanja di level rasa.     Betul di level realita alias level syariat, belanja itu karena butuh, tetapi di level rasa alias level makrifat, akses rasa getarannya bisa digubah.   Di level rasa atau level makrifat, belanja itu membayar. Anda bisa bayar tentu karena Anda punya. Punya itu indikator utama kekayaan.   Karena itu saat Anda belanja piculah dengan rasa kaya, rasa punya. Maksudnya, saat Anda belanja di situ Anda membayar, saat itu piculah di dalam di hati dengan self talking, “Saya kaya. Saya punya. Makanya saya beli”. Itu belanja pemicu kaya.   Jangan Anda belanja selftalking dan kesadarannya, “Saya butuh barang ini. Saya beli ah.” Itu belanja pemicu melarat.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

LAWAN TAMBAH BUKANNYA KURANG TAPI AZAB

Segala hal ada lawannya, Timur lawannya Barat, atas lawannya bawah, dan tambah lawannya kurang. Namun algoritma eksak alam semesta di atas tidak berlaku untuk perlawanan syukur nikmat dan kufur nikmat. Syukur nikmat itu lawannya adalah kufur nikmat. Syukur nikmat dijanjikan ditambah nikmatnya, seharusnya kufur nikmat itu dijanjikan dikurangi nikmatnya. Yang terjadi kufur nikmat itu bukan diancam akan dikurangi nikmatnya, namun diancam azab sadis. Aneh, kan? Perhatikan ayat ini; ﴿وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ﴾ “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrahim: 7) Orang syukur itu orang yang sadar diberi nikmat sehingga yang dirasakan adalah rasa terima kasih, rasa gembira, rasa rendah hati karena sadar telah dikaruniai nikmat.  Untuk ibaratkan rasa syukur itu seperti pelayan toko yang dagangannya baru saja dibeli. Bagaimana reaksinya? Ya terima kasih, ya gembira, ya merendahkan hati. Nah orang kufur nikmat itu sebaliknya, ia tidak sadar telah diberi karunia nikmat sehingga dengan yang memberi nikmat dia merasa tidak diberi apa-apa lantas menuntut, memeras, menyombongi dan prilaku buruk lainnya. Coba Anda simak ilustrasi kisah ini nanti Anda paham mengapa kufur nikmat bukan dikurangi nikmatnya tetapi diazab pedih. Ada seorang pengusaha beras yang bisnisnya sudah sangat maju. Ia sangat peduli dengan nasib anak jalanan, maklum ia sendiri mantan preman anak jalanan. Ia berubah drastis hidupnya tentu semata-mata karena hatinya dicerahi hikmah oleh Allah, ia pun tumbuh menjadi pengusaha yang sangat dermawan dan amanah. Pebisnis jelas tak luput dari hutang karena tertuntut harus putarkan modal, namun ia sangat disiplin dalam membayar hutang. Dalam segala proyek ia selalu wasiat kepada karyawan-karyawannya, “Jangan bikin cacat sekecil apapun amanah. Dahulukan membayar lunas semua tagihan bisnis termasuk gaji karyawan.” Sudah begitu ia sangat peduli dengan anak jalanan, ia terus dekati anak-anak jalanan, diajak ngaji dan zikiran, diberi peluang pekerjaan, dan kerap berikan santunan sedekah pada mereka. Satu ketika ia menyupport seorang teman yang duanggapnya baik dengan diajaknya bisnis, diberi peluang, dibina mentalnya, hingga kemudian diberi kepercayaan-kepercayaan. Sesudah dipercaya begitu dalam, si teman malahan bawa kabur uangnya hampir 1 M. Ketika ditagih, si teman sama sekali tidak merasa bersalah, malahan si teman selalu jawab dengan hinaan hingga menggoblok-goblokan. Misal, “Kebaikanmu dan sikapmu yang terlalu baik begitu di jaman sekarang kalau tertipu 1 M itu masih wajar. Besok-besok bisa-bisa semua asetmu habis ditipu orang.” Model si teman pembawa kabur uang di atas itu layaknya dikurangi nikmatnya apa dicincang azab? Begitulah mengapa kufur nikmat itu layaknya diazab pedih sebab memang makan hati makan jantung orang yang telah memberinya nikmat. Maka itu orang kufur nikmat itu kelihatan sekali kok, hidup mereka berantakan disana-sini, melarat dan bolak balik kena musibah karena azab. Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

MAU RAIH CAPAIAN? PANTASKAN DULU LEVELNYA

Awal saya beli mobil masih harga 100 jutaan. Tentu lah pingin ganti mobil yang minimal menengah ke atas. Yang saya lakukan walaupun mobil harga 100 jutaan selalu saya isi Pertamax Turbo full tangki.  Niat saya beli fasilitas mobil menengah ke atas dulu untuk memantaskan levelnya, nanti juga bisa beli mobilnya. Dan benar, 3 tahun kemudian saya ganti mobil. Ayah mertua saya punya tanggung jawab mengembangkan gedung dan fasilitas pondok pesantren. Yang namanya beli bahan bangunan sudah seperti Anda beli sayuran, tiap hari harus belanja, dan itu terjadi sepanjang hayat beliau.  Namun begitu beliau tidak punya hutang, cenderung kuat anti hutang. Sejak nol begitu beliau punya cita-cita kembangkan pondok pesantren yang padahal modal juga tidak pegang, uang juga belum punya, beliau melatih diri memantaskan levelnya.  Beliau melatih diri dari yang terkecil, walaupun bisanya beli semen satu sak, beliau lakukan, tiap hari sekecil apapun kemampuan beli bahan bangunan, beliau lakukan. Bisanya cuma pelihara satu karyawan bangunan, beliau lakukan. Dan hasilnya sekarang beli bahan bangunan sudah seperti beli sayuran, dan bangun gedung nilai milyaran sudah seperti bangun gubukan sawah. Saya banyak kenal traveller dunia, yang kerjaannya keluyuran luar negeri. Resepnya mereka upgrade dulu kepantasan levelnya dari yang terkecil, paspor jangan sampai mati. Pergi ke luar negeri atau tidak, paspor tetap dihidupkan. Bahkan ada cerita teman saya yang pingin sekali umrah, beliau memulainya dengan bikin paspor wisata, lalu paspornya dihidupkan terus, padahal daftar umrah juga belum, cuma punya modal pingin umrah. Dan betul, selang 3 tahun kemudian dia umrah. Dulu saya tidak pernah gambarkan diri saya bisa tiap bulan naik pesawat, keluar masuk hotel, keluyuran dari satu kota ke kota lain, dibayar lagi keluyurannya, dan punya relasi besar dengan kalangan metropolis, karena saya sebenarnya cuma anak desa, lagi pula anaknya orang miskin. Bagaimana saya mencapai kesana? Saya memulai dari memantaskan levelnya. Dulu saya memulai dari menulis buku, tidak peduli bukunya terbit atau tidak, ada uangnya atau tidak, saya menulis dan menulis.  Bahkan saya hingga dicaci maki tetangga di desa karena kerjaannya di dalam kamar, duit tidak punya, dikira saya tukang tidur-tiduran. Padahal di kamar saya sedang kerja keras menulis di depan komputer rusak, waktu itu masih komputer pantium 3, dan itupun komputer butut bekasan. Jadi sebelum Anda sampai di levelnya, pantaskan diri dulu berada di level tersebut dengan usaha sekecil apapun yang bisa Anda lakukan. Karena yang namanya niat itu harus muqaranan bi fi’lihi (berbarengan dengan pelaksanaan kerja).  Anda niat shalat, tetapi tidak pantaskan level untuk shalat, niat shalat tapi Anda tidak ambil wudhu, tidak tutup aurat, tidak hadap kiblat, tidak memulai takbiratul ihram, lalu bagaimana Anda sampai di level shalat? Pantaskan dulu levelnya dengan berkeinginan, lalu mulai dari yang terkecil dan tersederhana, dan konsisten jalani.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

RESEP MAKNYOS KAYA MULIA

Ada seorang teman hebat saya bercerita. Dia pernah alami satu fase dimana dia terjebak harus selalu rendah hati, ya karena lingkungan tersebut adalah lingkungan orang-orang berpengaruh, yang mau tidak mau dia harus andap asor, di situ dia merasa bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, dan tak berdaya.   Hingga ada beberapa orang yang selalu memandang dia sebelah mata hingga waktu lama, mau tidak mau dia harus sabar. Diperlakukan apapun, dibilang yang tak enakan hati hingga tak didengar itu sudah biasa.   Di keadaan itu, dia tetap rendah hati dengan kesabaran tinggi. Dan terus dia jalani saja apa adanya, semenyakitkan apapun.   Rendah hati bukan watak asli dirinya, hanya karena keadaan saja yang akhirnya haruskan dia rendah hati.   Dan hasilnya, rezeki dirinya lalu mulai berubah, hingga di lingkungan tersebut dia jadi tampak menonjol kekayaannya. Bukan Cuma rezeki yang menonjol, kemuliaan dia pun menonjol.   Sesudah dia menonjol tidak begitu saja orang-orang di lingkungan tersebut menghargainya. Tetap ada yang sepelekan dan memandang sebelah mata. Lihat dirinya sedekah besar ke komunitas mereka, ya tidak dianggap. Namun dia tetap sedekah dengan rasa rendah hati. Dia teruskan saja rasa sabar dan rendah hatinya, tak melawan tanpa menonjol-nonjolkan diri.   Dan pada akhirnya, semua takluk, mengakui kemuliaan dan kemenonjolan dirinya. Yang memandang dia sebelah mata, satu-satu mengakui. Hingga detik ini dia di posisi mulia di hati mereka dengan anugerah rezeki unggul untuk dirinya.   Namun fase lain dalam dirinya juga ada, sebagai bahan pengingat. Dimana dia di lingkungan lain bergaul di lingkungan orang-orang biasa-biasa saja. Di lingkungan tersebut dia dari awal sudah punya kuasa dan dihargai.   Ketika dia masih tidak punya, ilmunya dihargai oleh mereka. Lantas setelah dia mulai jadi orang punya, dia pun banyak membantu mereka.   Namun itu, bangunan mental dirinya karena dari awal dia menonjol dan kuasa, dia jadi arogan. Gayanya angkuh. Apalagi sesudah dia merasa dialah yang banyak membantu, di situ dia jadi merasa paling layak dihargai. Ekspektasi dirinya bahwa dia itu penting sangat tinggi.   Hasilnya, dia ditinggalkan mereka. Dia menganggap diri mereka orang-orang tak bersyukur, sudah diberi kebaikan malahan melunjak. Dia tuduh mereka iri dengki dengan keunggulannya. Dia merasa dirinya orang baik karena banyak bantu mereka, dan mereka adalah orang-orang tak bersyukur.   Dan hasilnya apa? Di lingkungan lain tersebut dia tidak berharga. Keunggulan ilmu, martabat dan hartanya, kebaikan dan kedermawanannya, sama sekali tidak berguna untuk sekedar jadikan dirinya dihargai. Dia tetap ditinggalkan. Dia sakit hati sendiri.   Nah sudah jelas, kan? Rendah hati dan sabar itulah resep maknyos kaya mulia. Tinggi hati dan congkak itulah awal rendahnya diri.   Di lingkungan tersebut dia jadi belajar dari kesalahannya untuk selalu rendah hati dimanapun dan di keadaan apapun.   Jadi siapapun yang meninggi, ia akan rendah. Dan siapapun merendah, ia akan tinggi.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

BAPERAN ATAS SAKIT HATI ITU WUJUDKAN KETERPURUKAN

Lelaki ketika menikah, ditilik dari kacamata “tindakan” sebenarnya sebuah kesepakatan pemerasan. Lah iya, sesudah menikah, seks dinikmati bersama, lelaki yang harus bayar maharnya. Belum lagi kalau ikuti adat tertentu, seperti adat Jawa, lelaki harus “mbesan” yakni harta tertentu yang diserahkan kepada keluarga pengantin wanita sebagai bawaan besan, padahal ya kepentingannya sama antara 2 besan yaitu bikin resepsi nikahkan anak-anak mereka. Sesudah bangun keluarga, lelaki makin jauh dijerat dalam kesepakatan pemerasan, karena dia dituntut kasih nafkah istri yang merupakan anak orang. Kalau kasih nafkah anak sendiri mending, karena anak itu darah daging sendiri, lah istri itu kan anak orang lain? Bayangkan coba, banting tulang hingga stres-stres cuma untuk kasih makan anak orang? Wkkkk pemerasan, kan? Dimana pun resiko sebuah kesepakatan pemerasan adalah korban. Menjadi korban, efek getaran yang ditangkap adalah keterpurukan. Namun pada kenyataannya, lelaki sesudah masuk dalam kesepakatan nikah, mayoritas lelaki malah temukan harga dirinya sebagai lelaki, bukan temukan dirinya sebagai korban pemerasan. Ketika bujangan rezeki lelaki sempit, sesudah menikah malah kaya. Ketika bujangan tidak punya rumah sendiri, sesudah menikah malahan bisa bangun rumah. Banyak harga diri pria yang terbangun justru setelah kasih makan anak orang dalam ikatan nikah. Praktek tindakannya pemerasan, tapi hasilnya bukan korban, justru hasilnya adalah keberlimpahan. Kok bisa? Itulah pengaruh penempatan kesadaran di dalam hati. Sesudah menikah laki-laki menempatkan diri sebagai pejantan yang siap bertanggung jawab beri nafkah, hasilnya alam semesta merespons apa yang disadari di hati lelaki. Sadar sebagai pejantan itulah yang lelaki rasakan sehingga energi yang dia tarik berwujud keperkasaan dan keberlimpahan. Bahkan tidak sedikit lelaki yang merasa kurang jika hanya kasih nafkah untuk 1 anak perempuan orang lain, sehingga tambah lagi jadi 2, 3 atau 4. Kalau akses sadarnya jadi korban pemerasaan, mana mungkin ingin tambah? Andai ketika menikah dan dalam jalani rumah tangga, lelaki mengakses kesadaran jadi korban pemerasaan, apa yang terjadi? Dari contoh kasus hidup lelaki, artinya akses sadar hati di balik tindakan dan aktifitas itu yang akurat mempengaruhi hasil nyata yang diterima. Hal-hal yang menyakitkan hati seperti diejek, direndahkan, disingkirkan, disalah-salahkan, dianiaya, dan lain sebagainya, itu semua bisa diolah sebagai energi yang menguatkan diri Anda, sebagai self esteem energy yang terus bekerja mengisi ulang energy untuk Anda, namun asal pas dalam mengakses rasa sadarnya. Lalu bagaimana olah rasanya? Ya hindari rasa menjadi korban, namun gunakan kesadaran al-hikmah yakni kesadaran mengambil hikmah di balik kejadian. Umpama Anda tersandung batu, di situ jika disadari sebagai korban musibah ya hasilnya keterpurukan, namun jika disadari, “Saya tersandung batu, alhamdulillah sangat bersyukur dosa-dosa saya sedang diampuni Tuhan,” hasilnya juga sebagai orang syukur yang diampuni dosanya. Sudah syukur dan diampuni dosanya, bagaimana rezeki Anda tidak mengalir cantik? Kenapa Anda terpuruk? Ya karena Anda baperan, mudah merasa menjadi korban. Sadari sebagai hikmah baik, itu server untuk download segala kebaikan. Jangan baperan ya? Sebentar-sebentar merasa menjadi korban ketidakberuntungan, latihlah bijak menyadari hikmah baik di berbagai kejadian menyakitkan. Muhammad Nurul BananGus Banan

JUNI 2023

MEMPERTEGAS LEVEL KAYA PADA NEGARA DAN AGAMA

Ada salah satu teman saya yang sangat tersinggung dengan rasa berat hati kuat ketika hadapi tanggung jawab di 2 hal; 1). Bayar pajak. 2). Ditilang polisi. Anda ingin jadi bos harus tahu resiko menjadi bos sehingga bisa menyiapkan mentalnya. Resiko bos itu membayarkan orang lain, dari menghidupi orang lain dengan penghasilan tertentu hingga harus siap terjebak menraktir. Bila mentalitas Anda tidak bisa nyaman dengan resiko jadi bos, selamanya Anda terpental dari posisi itu karena terjadi pertarungan di dalam diri, terjadi getaran saling sabotase di dalam diri. Satu getaran inginkan kaya dimana kaya berarti berposisi bos, sisi lain disabotase mental asisten yang selalu dibayari. Mereka yang berposisi bos memang punya mentalnya, dan pula mereka memang nyaman membayarkan orang, bahkan punya rasa bangga sebagai orang yang terjebak menraktir dimana-mana. Nah orang yang nyamannya ditraktir dan dibayari, itu mentalitas asisten. Kalau nyamannnya di situ yakni dibayari berarti kenyamanannya di level asisten, resikonya untuk bergeser ke level bos akan sangat sulit. Segala hal ada mentalitasnya dulu, baru nyaman di posisi itu, lalu realita kehidupan baru akan mewujudkan dan menyingkronkannya. Dimana-mana posisi orang dhuafa itu disubsidi negara. Kebijakan subsidi semuanya diturunkan untuk rakyat yang lemah. Ada BBM subsidi, kendaraan subsidi, transportasi subsidi, listrik subsidi, rumah subsidi, gas subsidi, layanan kesehatan subsidi, semua kebijakan subsidi untuk rakyat lemah. Dimana-mana posisi orang kaya adalah bukan orang yang disubsidi negara, tapi malah menyubsidi negara, mereka aset negara yang mengkayakan negara. Orang kaya bayar pajaknya banyak. Ada pajak rumah, ada pajak kendaraan, ada pajak tanah, ada pajak perusahaan, ada pajak perdagangan, dan lain-lain semua itu sistem untuk mengkayakan negara. Itu bagian dari resiko orang kaya. Selamanya Anda tidak nyaman menjadi bos kalau mental Anda tidak nyaman dengan resiko traktir dan hidupi orang, selamanya pula Anda tidak akan jadi orang kaya kalau mental Anda tidak nyaman dengan resiko orang kaya yang harus mengkayakan negara dengan pajak. Saya sendiri boro-boro tertarik dengan aneka jasa subsidi yang ditawarkan negara. Untuk gas, saya anti gas hijau. Listrik, saya anti yang 450 watt. BBM, saya anti perlalite dan solar. Layanan kesehatan, saya pilih pakai biaya umum. Mobil, saya hindari jenis LCGC. Bukan bermaksud gembelengan, tapi saya harus terus siapkan mental saya di level orang kaya, saya harus mempertegas diri kepada negara. Saya bangga kalau saya bisa mengkayakan negara, bukan dibantu negara, itu yang terus saya pertegas. Anda yang masih tersinggung dengan pajak, apa nggak malu, karena selamanya pajak itu untuk rakyat yang kaya, subsidi itu untuk rakyat lemah. Pertegas mental Anda, di posisi mana Anda akan memposisikan diri. Demikian pula kepada agama. Kalau mau kaya ya Anda harus pertegas diri Anda kepada agama. Selayaknya orang kaya itu bayar zakat, bukan terima zakat. Selayaknya orang kaya bayar qurban. Selayaknya sembelih aqiqah. Selayaknya biayai umrah dan haji. Selayaknya wakaf, infaq dan sedekah. Tentu memulai dari yang wajib dulu, yakni zakat. Lalu lanjut ke yang sunah tetapi yang ringan-ringan seperti infak shalat Jumat. Kemudian lanjut ke sunah yang agak berat seperti qurban dan aqiqah. Setelah dirasa mampu lanjut dengan yang berat-berat seperti daftar umrah, naik haji dan wakaf. Kaya itu dimulai dari mental, seperti halnya menjadi bos dimulai dari mentalnya bos yang mereka bangga bila membayarkan orang lain, karena itu kepada negara dan agama, Anda pun harus pertegas diri bahwa Anda kaya dengan membangun mental, “Saya bangga bayar pajak. Saya bangga bayar wakaf, zakat dan sedekah.”   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

JUNI 2023

2000 PERAK AGAR MENARIK KELUASAN REZEKI

Rezeki Anda itu dititipkan di perasaan hati orang lain.   Acara di sebuah stasiun televisi cukup Anda beri rasa suka, rating viewers-nya otomatis naik, du situ Anda tidak usah iuran ke stasiun televisi tersebut, alam semesta segera mengirimkan limpahan rezeki ke stasiun televisi penayangnya. Tukul Arwana pernah menjadi selebriti terkaya di Indonesia hanya karena acara Bukan Empat Mata yang dipandunya banyak disukai perasaan hati penonton.   Itulah rasa hati, bahwa rasa hati orang lain berpengaruh akurat pada rezeki Anda. Rasa hati orang lain atas diri Anda adalah energi penarik kekayaan, keberuntungan, dan segala kebaikan Anda.   Sebaliknya, toko Anda yang bangkrut itu mestinya karena tidak banyak disukai perasaan hati pelanggan.   Jadi rezeki Anda terhubung akurat dan terkait erat di dalam rasa hati orang lain. Rasa suka dari orang lain untuk Anda membawa kebaikan dan keberlimpahan, sebaliknya rasa tidak suka dari orang lain untuk Anda membawa kemelaratan dan paceklik.   Saya pemilik toko kelontongan. Pernah satu ketika ada orang beli rokok Djarum 76 sebungkus, harganya 18 ribu, dia kasih uang 20 ribuan. Saat saya mau berikan kembalian 2 ribuan, dia menolak, “Nggak usah dikembalikan. Ambil saja,” katanya. Perasaan saya sebagai penjual merasa senang sekali, karena bagi pedagang, untung 100 perak saja sangat berharga, lah ini dikasih 2000 perak. Padahal 2000 perak kalau disedekahkan secara sosial, saya jelas tersinggung karena tidak menghargai.   Nah untuk menarik rezeki berlimpah itu sering-seringlah titipkan rasa suka orang lain kepada kita, di antara cara sederhana ya itu tadi, kalau beli titip seribu atau 2 ribu dari uang kembalian belanja. Bayar parkir umpama 1000 perak, beri 2 ribuan, kembaliannya jangan diambil.   Sedekah 2 ribu secara terang-terangan malahan berpotensi menyinggung karena tidak berharga, tapi dari kembalian uang belanja, itu sangat gembirakan perasaan orang lain. Gembirakan hati orang kalau dengan sedekah langsung, kecil-kecilnya 50 ribu, kalau dengan cara tidak ambil kembalian uang belanja, seribu perak sudah sangat menggembirakan.   Ingat! Rezeki Anda dititipkan di perasaan suka hati orang lain. Apapun yang banyak disukai orang itu akan menarik rezeki lebih deras.   Muhammad Nurul Banan   Gus Banan

Scroll to Top