Author name: gus banan

AGUSTUS 2023

ENERGI MISKIN ENERGI BIKIN PEGEL

Energi miskin itu energi bikin pegel orang lain, dan energi kaya itu energi yang bikin suportif orang lain.   Anda datang ke rumah orang dengan bawa oleh-oleh mahal, yang punya rumah pasti energinya tersupport, ia jadi gembira selanjutnya hormat dan menghargai Anda. Itu disebabkan kedatangan Anda bawa energi kaya dengan memberi.   Sebaliknya kalau Anda bertamu ke rumah orang, tetapi Anda mau hutang duit, kira-kira yang punya rumah loyo, tidak?  Dia loyo dan pegel-pegel karena kedatangan Anda itu bawa energi miskin dengan meminta hutangan duit.   Tidak ada orang merasa gembira lalu tersupport energinya ketika bertemu pengemis, rata-rata merasa terbebani, karena pengemis energinya meminta. Meminta tanda tidak punya. Tidak punya tanda miskin.   Anda kadang membersamai orang namun Anda merasa seperti loyo, tidak semangat, tidak gembira, mau ngomong saja lidah kaku dan malas, itu tanda orang yang bersama Anda berenergi miskin, unsur-unsur di dalam kesadarannya masih dominan meminta-minta.   Dan kalau Anda bertemu seseorang lantas diri Anda merasa tambah semangat, berenergi, ceria, gembira, itu tanda Anda bertemu dengan orang yang berenergi kaya.  Ya seperti tamu yang bawa oleh-oleh besar, orang yang berenergi kaya itu berkemampuan membuat orang lain gembira.   Maka mari cek hidup kita. Masihkah diri kita menjadi masalah bagi orang lain? Masihkah menjadi beban bagi orang lain? Kalau masih begitu, dijamin rezeki Anda macet-macet seret.   Dan kalau sampai diri Anda adalah fitnah bagi orang lain, artinya kerjaan Anda memusuhi orang, mengfitnah, berbuat mudharat bagi orang lain, itu rezeki Anda yang datang bukan duit, tapi azab, kualat dan melarat.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

TRANSMUTASI ENERGI MOVE ON

Transmutasi adalah perubahan atau konversi satu objek menjadi objek lain. Transmutasi unsur kimia terjadi melalui reaksi nuklir dan disebut dengan transmutasi nuklir.   Bukan Cuma nuklir, energi angin, air, sinar matahari, dan semua energi bisa Anda konversi ke energi lainnya. Artinya konversi energi satu obyek menjadi obyek lain itu bisa dilakukan.   Masa lalu yang dilepaskan dan diusahakan untuk move on itu energi hati yang sangat besar. Sayang kan kalau tidak Anda transmutasikan menjadi obyek energi lainnya?   Banyak di antara Anda tak bisa 100% move on begitu saja dari masa lalu. Dan benar-benar Anda seperti dipaksa takdir Tuhan untuk let go melepaskan.   Diperjuangkan tidak bertemu jodoh, malah ketemunya maksiat seperti selingkuh dan perebut pasangan orang, namun mau dilepaskan masih saja terbayang-bayang. Disitu tidak ada pilihan lain selain usaha move on.   Usaha move on itu energi hati yang sangat besar, sayang kan kalau energinya tidak Anda transmutasikan menjadi power masa depan?   Sambil komitmen sadar rela lepas, dan setiap kali bayang-bayang tentang dia muncul di hati, Anda berdoalah untuk menukarkannya dengan power masa depan, misal, “Tuhan, aku relakan terima takdir ini, semoga aku makin kaya mulia dunia akhirat.”   Ingat! Setiap kali Anda ingat dia, segera sadarkan diri untuk transmutasi power energi masa depan.   Namun Anda yang kokoh merelakan lepas, kuatkan pilihan terima takdir tidak hidup bersama, jangan kemudian bolak balik kepoin akun medsosnya, apalagi usaha-usaha berkomunikasi.   Dalam kisah di satu hadits tentang 3 orang yang terjebak dalam goa karena pintu goa tertutup batu besar, itu salah satu ketiga orang tersebut melakukan transmutasi energi move on. Dia pernah sangat mencintai seorang gadis.   Saat hendak berbuat mesum ia batalkan, lalu memilih usaha move on dari si gadis yang dicintainya.   Saat ia panik terjebak di dalam goa, lalu ia gunakan energi move onnya untuk transmutasi energi dibukakannya batu besar yang menutup pintu goa. Dan batu besar bergeser sendiri.   Yusuf AS sebenarnya sangat mencintai Zulaikha, beliau pun berat untuk bisa move on. Namun karena komitmen takwanya, ia pilih meninggalkan Zulaikha sekalipun harus dipenjara karena propaganda fitnah perselingkuhan.   Di penjara, Yusuf selalu berdoa dianugerahi menjadi pejabat tinggi keuangan negara Mesir Kuno. Dan doanya menjadi wujud nyata.   Itulah transmutasi energi move on. Usaha move on itu super berat, kenapa tidak ditransmutasi?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

CARA TEMUKAN ORANG YANG TULUS KEPADA ANDA

Algoritma Youtube jauh lebih konsisten menayangkan postingan konten Anda karena Youtube punya kepentingan ambil keuntungan dari jam tayang konten Anda.   Beda sekali dengan algoritma Facebook, kalau Anda tidak gabung Facebook profesional, dari 5 ribu teman di akun Anda hanya berapa ratus orang yang bisa melihatnya.   Itu karena pihak meta dapat apa dari postingan Anda kalau Anda tidak bisa menguntungkan mereka?   Mereka melayani Anda dengan konsisten itu sebatas dan terbatas pada pertimbangan apa yang bisa mereka peroleh dari diri Anda.   Ada give ada take begitulah sistem interaksi alam semesta. Dan Youtube jauh lebih konsisten memperjuangkan kepentingan konten Anda karena ada take yang bisa diambil dari diri Anda.   Ada kepentingan yang terpenuhi dari diri Anda, baru orang lain akan konsisten tulus dan mempriorotaskan kepentingan Anda. Begitu simpulnya.   Sudah terbukti, para ASN dengan konsisten tulus ikhlas dalam jangka waktu lama selesaikan pekerjaan negara karena kepentingan mereka peroleh rezeki terpenuhi.   Para istri dalam jangka waktu lama konsisten layani suami karena kepentingan mereka diberi nafkah terpenuhi. Para penjual dalam jangka lama tulus ikhlas capek layani pembeli karena ada kepentingan cuan yang terpenuhi. Dan seterusnya.   Hingga orang tua pun tulus ikhlas layani anaknya karena ada kepentingan yang ingin didapatkan yakni punya anak shaleh dan sukses, kalau anaknya bikin masalah ruwet ya andai saja bisa membuangnua, orang tua ingin membuangnya.   Anak dengan tulus ikhlas berbakti kepada orang tuanya karena ia berkepentingan peroleh doa dan berkah dari orang tuanya.   Mereka yang terjun di pergerakan organisasi sosial pun begitu. Misal giat di GP Ansor atau Pemuda Muhammadiyah ya karena mereka berkepentingan eksistensi sosial, ya ingin tersohor, berpengaruh, atau pun apa.   Atau kalau yang berkepentingan mulia ya ingin peroleh berkah ulama melalui pergerakan organisasi.   Jadi orang bisa tulus ikhlas melayani dan bekerja sama dengan Anda karena ada kepentingan yang bisa dia penuhi dari diri Anda.   Sebab ini kalau Anda mau cari orang yang tulus ikhlas itu jangan pernah cari orang yang dengan sukarela membantu Anda, pastikan dia punya kepentingan kepada Anda dan pastikan pula Anda sanggup memenuhinya.   Tulus diartikan polos tanpa kepentingan atau diartikan sukarela, tidak juga. Anda iInginkan orang lain membantu Anda kok cari yang sukarela, ya dua hari saja dia melayani Anda, dia sudah pegal-pegal.   Sehingga kalau Anda temukan orang yang dengan tulus konsisten, pastikan dia bisa ambil keuntungan dari diri Anda, pastikan ada kepentingannya yang terpenuhi oleh Anda.   Kalau Anda masih saja belum sadar ini, Anda masih akan sakit hati berinteraksi dengan orang lain karena Anda thoma’ berharap orang lain bantu Anda dengan sukarela. Tak ada take, give pun tiada.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

MEREKA YANG MEWAH SEDANG BELI KESEDERHANAAN, MEREKA YANG SEDERHANA SEDANG BELI KEMEWAHAN

Saya bingung kalau harus mendefinisikan orang kaya, karena tidak ada yang kaya.   Lah iya saat penghasilan kecil, isi BBM motor full tangki gunakan Pertamax butuh uang 50 ribuan. Sesudah berpenghasilan besar ganti pakai mobil. Mobil 1500 CC-an, Pertamax full tangki sekitar 450 ribuan. Ganti mobil CC besar, isi Pertamax full tangki butuh 1,2 jutaan.   Makin kaya maka kebutuhan seseorang makin besar. Padahal kaya itu adalah terputusnya rasa butuh.   Sementara makin Anda kaya, kebutuhan Anda makin besar. Dari gambaran sederhana kebutuhan BBM kendaraan saja sudah begitu.  Belum lagi kebutuhan rumah, kebutuhan gengsi, kebutuhan healing, kebutuhan travelling, kebutuhan pengaruh dan lainnya, semua kebutuhan makin membesar.   Yang artinya makin Anda berduit banyak justru Anda makin fakir. Blunder kan? Ujar-ujar makin kaya akan makin kecukupan malahan kebutuhan makin membesar yang berarti makin fakir.   Tapi ya memang begitu mekanisme hidup, blunder dan muter. Setelah muter-muter lalu balik lagi ke titik semula.   Di dalam Zat Tuhan juga begitu. Tuhan Maha Kaya, tapi apa iya di sisi Tuhan ada saldo harta? Tidak ada.   Karena seluruh rezeki di sisi Tuhan dialirkan untuk para makhluk-Nya. Semua rezeki di sisi-Nya mengalir, di sisi-Nya adakah saldo rezeki yang ditahan?   Itu artinya di sisi-Nya tidak ada apa-apa. Blunder kan? Disebut Maha Kaya tapi ya tidak ada apa-apa. Kosong ternyata isi, yang isi ternyata kosong.   Sama saja, orang berjibaku berhemat, lah ternyata hemat itu emangnya ada? Saya lihat di konten-konten medsos yang amalkan frugal living, mereka justru membayar sangat mahal. Cuma beli sabun cuci piring, muter-muter cari yang murah, syukur dapat yang discount.   Orang itung-itung harga cari yang efesiein, itu boros sekali memakai otaknya. Belum lagi tenaga yang digunakan untuk muter-muter cari barang efesien harga.  Jadinya frugal itu murah apa mahal? Ya Cuma murah di satu sisi, di sisi lain ya bayar mahal.   Coba kalau Anda bayar tanpa lihat harga, cukup kira-kira saja punya uang segini, beli ini dan itu cukup duitnya, setelah itu tidak dilihat notanya langsung masuk tong sampah, kan jadi hemat di pikiran dan perasaan, otaknya tidak diperas-peras amat.   Sama saja Anda beli handphone ram kecil, iya murah diharga, saat dipakai baru handphonenya minta bayaran mahal dari perasaan Anda, buat menyimpan apk sempit, buat loading lelet, hasil foto juga mirip foto KTP.  Mahal di perasaan kan? Merepotkan. Sebaliknya ram besar barangkali mahal di harga, tapi jadi frugal di perasaan.   Kalau begitu hemat itu ada, enggak? Adanya blunder.   Dan ada lagi, orang kaya itu katanya dekat dengan kemewahan. Ya mereka yang mewah sebenarnya juga orang sederhana, dan mereka yang sederhana juga sebenarnya orang mewah.   Misal, Anda menerimakan mobil sederhana, ya sebutlah mobil pakai Avanza keluaran pertama tahun 2003. Iya harga beli memang sederhana, tapi harga perawatan dan servis jadi mewah kan?   Effort kenyamanan yang dikeluarkan saat memakai, sedikit ada lobang jalan saja duduknya terguncang, jadi mewah kan kalau diukur dari harga rasa nyamannya?   Dan belum lagi dari sisi perasaan jadi sangat mewah. Lah iya pakai mobil sederhana siap-siap disangka orang tak punya duit?   Harga perasaannya yang diberikan jadi mewah kan? Gengsi yang dikeluarkan juga mewah.   Anda punya rumah reot itu sederhana di harga, di sisi effort pakai fasilitas rumahnya jadi mewah, mau tidur saja tidak nyaman. Belum lagi gengsi dan keluhan, itu sangat mewah memakan perasaan.   Sekrang orang yang mewah. Mereka di sisi lain ternyata sederhana. Misal pakai Toyota Alphard, jadi simple dan sederhana kan dalam effort keluhan dan effort gengsi?   Sederhana pula dalam kenyamanan, otot-otot tubuh jadi sederhana kerjanya dalam menahan guncangan di jalanan.   Ada salah satu teman saya, dia tinggal di daerah Banyumas saja, beli mobil scond hingga ke  Nganjuk Jawa Timur, infonya di Nganjuk harganya lebih murah.  Dia Cuma cari sederhana di harga, tapi cari mewah di kerepotannya. Iya kan?   Jadi hasilnya mereka yang serba mewah pun sedang beli kesederhanaan, dan mereka yang sederhana juga sebenarnya sedang beli kemewahan. Blunder.   Yang kaya adalah fakir, yang miskin bisa jadi yang kaya, yang hemat adalah yang boros, yang boros adalah yang hemat, yang mewah adalah yang sederhana, yang sederhana adalah yang mewah. Mumeti pokoke.   Namun itulah wujud Allah yang sesungguhnya. Dari Zat-Nya pun sudah begitu. Katanya hanya Allah wujud yang Esa, tauhid murni, namun nyatanya wujud-Nya itu ada karena kesepakatan “tiada tuhan” (lâ ilâha) yakni ateisme dan “selain Allah” (illâ-llâh) yakni teisme. Yang berarti Dia ada karena mengakui ketiadaan Tuhan. Blunder.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

LEVEL UP KAYA

Banyak orang ingin kaya dan berduit dengan mengelola sebegitu ketat uangnya. Dianggar-anggar, diatur, sedemikian rupa, hingga jajan kopi ke warung saja perasaannya dihantui rasa bersalah “jangan-jangan boros”, teledor sedikit keluarkan uang dihantui rasa bersalah dan sesal.   Sehatkah mental begini? Merelakan hidupnya diatur uang, merelakan mentalnya diteror uang. Sudah begitu tak kunjung-kunjung kaya lagi.   Lah mau kaya bagaimana? Gaji Cuma 3 juta, diatur sedemikian rupa, lantas untuk memulai kaya menabung dari uang yang dipaksakan sisa 300 ribu. Menabung 300 ribu tiap bulan, kapan mau kayanya?   Tidak tahu bagaimana orang kaya meraih kekayaan. Orang kaya raih kekayaan ya karena rezekinya banyak, bukan karena kreatif atur-atur keuangan, efesien kanan-kiri, paksa-paksa menabung, dan lainnya.   Orang kaya sekali peroleh rezeki angkanya puluhan juta, ratusan juta, bahkan ada milyaran hingga trilyunan. Mereka sekali dapat duit angkanya tinggi, lalu Anda yang menabung 300 ribu tiap bulan, kapan bisa mengejar di level kaya mereka?   Bisa jadi Anda menabung seumur-umur, sampai detik-detik sekarat, hasilnya masih kalah nominal dengan pendapatan satu jamnya orang kaya.   Apalagi ingin kaya pakai metode frugal living itu sama saja cari melarat rame-rame. Lah iya, andai semua orang irit, itung-itung dan pelit, mau jajan membatasi diri, mau belanja tahan diri, kreatif cari yang murah-murah, ya pedagang barang bayak yang tidak laku. Mereka bangkrut.   Kalau semua orang terapkan frugal living, perekonomian dunia bisa ambruk. Baru ada lockdown Corona dimana akses sosial termasuk akses perdagangan dibatasi, efeknya akses belanja juga dibatasi, orang lebih banyak berada di rumah dan uangnya tidak terpakai belanja, itu saja sistem perekonomian dunia langsung anjlok, apalagi kalau banyak orang terapkan frugal living, itu cara sadis bangkrutkan ekonomi dunia.   Lalu bagaimana sih sebenarnya menjadi kaya itu? Level dimana Anda mampu menarik angka rezeki besar.   Begini. Menjadi kaya itu levelnya yang harus dinaikan dulu. Naik dulu ke level kaya.   Levelnya orang kaya itu membayarnya besar, levelnya orang miskin itu membayarnya kecil. Iya orang kaya bayarnya tanah, mobil, rumah mewah, travelling luar negeri, hotelnya bayar presidential suite, bayar pajaknya besar, bayar gaji karyawannya besar, dan seterusnya.   Kalaupun mereka menabung, mereka debetnya besar, sehingga hakikatnya mereka ketika investasi ke bank juga besar. Dan seterusnya.   Lah orang miskin itu level bayarnya kecil. Bayar kuota internet cukup 20 ribu sebulan. Minum kopi cukup sasetan harga seribu perak. Bayar BBM cukup yang bersubsidi. Bayar pajak paling pajak motor. Dan seterusnya.   Yang jelas level kaya itu level dimana bayarnya besar. Level miskin itu level dimana bayarnya itu kecil.   Nah untuk menarik rezeki kaya itu Anda harus menaikan levelnya dari level miskin ke level kaya.   Berarti kalau level kaya itu level gede membayarnya, cara Anda naik ke level kaya juga dengan cara memperbesar bayarannya.   Pingin kaya kok malahan atur-atur kelola uang ketat, efesien pengeluaran, atau malah pakai metode frugal living, itu justru langkah menurunkan level.   Tahu-tahu orang miskin itu karena level bayarnya rendah, lah kok diikuti dengan metode frugal living, ya Anda sedang cari miskin atau cari apa? Kalau cari kaya sepertinya tidak masuk akal. Yang masuk akal kalau mau kaya ya bayarnya digedein dong bukan malah dikurangi. Ngerti?   Nah masalahnya kita kan tidak punya uang buat bayar seperti level bayarannya orang kaya? Iya, kan?   Nah disitu masalahnya kita, otak kita terlalu matre apa-apa yang tampak adalah uang.   Ada salah satu rekan saya, hidupnya sekarang kaya raya. Waktu masih lajang dia bercita-cita tinggi sehingga sekolah hingga kuliahnya dijalani penuh konsisten. Bukan Cuma itu saja, sewaktu dia kuliah dia kreatif untuk mandiri punya penghasilan sendiri.  Tidak sampai disitu, prinsip-prinsip keimanan juga dia pegang kokoh, dia selalu punya wudhu dan tidak mau berboncengan dengan cewek yang bukan muhrim.   Bukan dia sok suci, dalam pergaulan dengan cowok dia baik-baik saja, Cuma kalau pacaran dia sangat menjaga diri, bahkan boncengan pun tidak mau.   Nah kenapa dia kaya? Dia bayarannya besar. Sekolah tekun dia membayar besar. Mandiri untuk punya usaha sendiri dia bayar besar. Menahan syahwat demi takwa kepada Allah juga bayaran tinggi.   Ya begitu itu level orang kaya, sejak belum punya uang dia sudah berkemampuan bayar mahal atas masa depannya.   Lah orang miskin itu level bayar non material sudah kecil. Disuruh sekolah malah sibuk bercinta. Cita-cita tidak punya malah sibuknya urus asmara. Jadinya setelah menikah, pasangan nikahnya Cuma dikasih sisa pacar-pacarnya.   Gaya gaul diprioritaskan, urusan takwa belakangan. Dia tidak ada karakternya. Kalau disuruh bayar masa depannya dengan jerih payah selalu kecil angkanya, tidak ada karakter perjuangannya menyiapkan masa depan.   Nah kenapa orang kaya bisa menarik rezeki besar? Itu jawabannnya, mereka punya karakter kokoh dalam membayar. Sebelum mereka berkemampuan bayar mahal dengan uang, mereka telah lebih dulu membayar mahal dengan jerih payah. Dan bayar dengan jerih payah itulah bayaran yang sebenarnya.   Jadi sekali lagi kalau mau kaya itu bukan dengan atur-atur ketat kelola uang, kalau mau kaya itu naikan dulu levelnya ke level kaya.   Kalau kemarin bangun Shubuh malas-malasan, cobalah ubah diri. Kalau kemarin cita-cita dan kemauannya masih lemah, cobalah kokohkan cita-citanya. Kalau kemarin masih sibuk mengeluh, cobalah fokus ke tujuan. Dan seterusnya.   Naikan levelnya ke level kaya, jangan malah sibuk irit dan itung-itung duit.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

FRUGAL LIVING; SUNGGUH-SUNGGUH PELIT DAN IRIT BISAKAH KAYA?

“Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum.” (Raja Sulaiman bin Daud). Sebenarnya cara konyol untuk kaya itu dengan jalan irit dan pelit. Saya pernah gagal lakukan live setreaming di Youtube, di antara kendalanya ternyata kurang mumpuninya kuota wi‐fi di rumah saya.   Sehingga siangnya saya langsung ke kantor Indihome Purbalingga untuk naikkan kuota wi‐fi dari 20 Mbps menjadi 50 Mbps. Konon 20 Mbps sudah cepat untuk download, tapi untuk upload masih lambat, sementara untuk live streaming yang dibutuhkan kecepatan upload. Ingin layanan wi‐fi lebih handal, harus naikan kuota, artinya harus bayar lebih banyak. Dan hukum tersebut pun berlaku untuk semua ranah hidup, kalau Anda ingin layanan hidup lebih berkualitas, Anda pun harus bayar lebih mahal. Sebab itu berlaku hukum, الْأَخْرُ عَلَى قَدْر النصَب “Ganjaran sesuai dengan kadar kepayahan.” (H.R. Bukhari & Muslim) Di sini jelas sekali kalau “biaya” yang dikeluarkan itu merupakan takaran layanan kuota yang layak Anda peroleh. Tidak lebih begitu lah hukum alamnya. Karena itu yang namanya irit dan pelit itu selamanya akan memampuskan kualitas rezeki yang akan Anda terima, karena irit dan pelit itu artinya berhemat untuk keluarkan biaya. Biaya yang dikeluarkan sedikit, kualitas barang yang diterima juga anjlok, rezeki yang diterima juga tidak berkualitas. Apalagi cari murah‐meriah, hahaha itu sama saja cari modar rezeki dengan konsisten. Dan payah lagi ide dapat gratis alias tanpa biaya. Itu ide cerdas untuk makin miskin. Nah kualitas belanja Anda, nafkah Anda, sedekah Anda, itu semakin tinggi kualitasnya akan menarik rezeki makin handal. Beli sandal jangan di angka 150 ribu terus, bertahap dinaikkan. Isi dapur, isi kamar, isi BBM, dan belanja‐belanja lain bertahap dinaikkan, konsisten dan jangan plin‐plan. Karena ini Biosolar versus Pertaminadex, Pertalite versus Pertamax Turbo, jelas lebih menderaskan rezeki Pertaminadex dan Pertamax Turbo. Wi‐fi 10 Mbps versus 50 Mbps jelas lebih deraskan rezeki yang 50 Mbps. Kualitas nafkah kepada anak dan istri juga ditingkatkan, jangan malah makin disempitkan. Sedekah juga begitu, makin hari makin membengkak. Jebakannya biasanya termakan dogma “sederhana“. Beli sandal sederhana saja, iya sederhana, tapi resikonya kualitas pembiayaan Anda yang turun. Kualitas biaya turun, otomatis kualitas peroleh rezeki juga turun. Jadi konten ini hanya untuk Anda yang berminat naikan kuota rezeki, kalau tidak minat, ya barangkali punya impian hidup sederhana, ya silakan. Itu pilihan. Tapi kalau pilih sederhana lalu Anda mengeluh kurang duit ya itu namanya bukan lagi hidup sederhana, tapi pilih hidup miskin. Mengeluh itu level miskin. Nah bukan cuma dengan pengeluaran biaya Anda bisa naikan kuota rezeki, dengan jerih payah juga bisa. Makin besar kapasitas keringat Anda, makin besar pula kualitas rezeki yang akan Anda peroleh. Hai orang‐orang beriman, bertaubatlah dari irit, pelit, cari murah dan cari gratis! Sekarang sedang viral di IG dan Tiktok tentang frugal living; yakni ingin kaya dengan irit sedemikian rupa, bisakah? Alam semesta ini mengenali alamat; yakni titik di mana Anda sampai di titik 0 km dari tujuan Anda. Di Bumi ini, Anda mau kemana? Tidak ada yang buntu. Karena sistem “alamat” ini, GPS mampu membacanya dengan sistem satelit. Kemana pun Anda menuju alamat, di situ ada jalan menuju kesana. Namun satu hal yang harus Anda ingat, alam semesta ini energinya netral, getaran apapun oleh alam semesta akan direspons dengan respons energi yang sama. Anda yang bersuara merdu dengan Anda yang bersuara buruk sama-sama teriak bernyanyi di atas gunung, bukankah gaung yang digemakan alam semesta sama? Sama-sama keluarkan gaung.   Karena itu ketika Anda punya tujuan mencapai alamat, alam semesta tidak peduli jalan apa yang Anda ambil, asal ada tujuan, ada niat, lalu Anda berusaha mencapai alamat tersebut, alam semesta akan merespons dengan tunjukan jalannya tanpa peduli jalan apa yang Anda ambil.   Geng Yakuza Jepang ingin capai alamat “berpengaruh” dengan  jalan kekerasan dan penindasan, tercapai. Dan capaian pengaruhnya menyamai capaian Jenderal Besar Soedirman yang  pengaruhi orang dengan aksi heroisme militernya memerdekakan Indonesia.   Maria Ozawa ingin capai alamat popularitas dengan pornografi, tercapai. Dan capaian popularitasnya menyamai Susi Susanti yang populer menjadi atlet Badminton profesional.   Hanya saja apapun alamat yang Anda tuju, tercapai atau tidak, hasil maksimal atau tidak, itu tergantung kesungguhan Anda. Jangan dikira menjadi sosok pornstar yang populer tidak butuh kesungguhan konsisten, itu kesungguhannya menyamai kesungguhan dakwah para nabi yang membawa risalah suci.  Lah iya, Maria Ozawa mau ke Bali saja didemo ratusan ribu orang, shootting film nasional di Indonesia juga begitu. Kalau dia bukan orang yang sungguh-sungguh dalam karir pornografinya, sudah sejak awal dia terjungkal.   Anda mau kaya dengan irit dan pelit, tercapai kok, asal sungguh-sungguh. Anda amati saja masyarakat di sekitar Anda, banyak kan orang kaya yang pelit dan irit? Tapi itu syaratnya sungguh-sungguh. Jadi kalau Anda sudah irit dan pelit tapi tidak kaya-kaya, itu artinya pelit dan irit Anda kurang kesungguhan.   Cuma itu, kalau saya malas bangun kekayaan kok dengan pelit dan irit. Pelit dibenci orang, irit menyiksa diri sendiri dengan harta. Juga dibenci Tuhan. Kalau saya emoh.   Lah wong kaya dengan dermawan pada diri sendiri dan orang lain juga ada kok, lebih happy dan lebih elegan, ngapain kaya dengan irit dan pelit?   Raja Sulaiman bin Daud jelas berpesan, “Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.”   Masih mau kaya dengan irit? Amit-amit! Kerja capek-capek dan ujung-ujungnya juga mati, pingin bakso saja ditahan-tahan demi pingin kaya. Rakus amat sih?   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

AGUSTUS 2023

TASAWUF BODO AMAT

Siapa yang diserahi mengurus dunia? Itu adalah manusia. Siapa manusia? Dia makhluk tersempurna penciptaanya baik fisik maupun kesadarannya sehingga disebut ahsani taqwîm (Q.S. At-Tîn : 4), juga makhluk paling unggul sehingga disebut al-a’laun (Q.S. Muhammad : 35). Namun sisi lain manusia bisa terguling ke level terendah bisa lebih rendah dari binatang dan debu hingga disebut asfala sâfilîn (Q.S. At-Tîn : 5), makhluk zalim dan jahil (Q.S. Al-Ahzab : 72), makhluk lemah (Q.S. An-Nisa : 28), kikir dan suka mengeluh (Q.S. Al-Ma’ârij : 19 – 21). Dengan begitu boleh lah manusia disebut bagian dari makhluk jahat. Coba saja Anda lacak kebaikan manusia yang tidak memanfaatkan keburukan. Guru itu baik dan mulia, namun  mereka bermanfaat lantaran kebodohan manusia. Dokter itu baik dan mulia, namun mereka bermanfaat lantaran sakitnya manusia. Bengkel itu baik dan mulia, namun mereka bermanfaat lantaran rusaknya kendaraan Anda. Dan seterusnya. Kemanfaatan manusia lantaran ada makhluk lain yang terima eburukan. Anda menjadi dermawan yang banyak berbagi itu  pertanda banyak makhluk lain yang mendapat keburukan kemiskinan. Anda menjadi pengasuh anak yatim yang amanah itu pertanda banyak anak manusia yang dapatkan keburukankehilangan orang tuanya.  Kalau manusia peroleh kebaikan lantaran baiknya manusia justru yang dihasilkan adalah penyakit masyarakat. Pencuri berbuat jahat lantaran Anda punya kebaikan berupa harta. Pengemis yang minta-minta merajalela lantaran Anda punya kebaikan memberi. Koruptor mencuci uang negara lantaran  negara memberi kebaikan mengangkat mereka sebagai pegawai.  Kebaikan yang didapat manusia ujung-ujungnya adalah hasil memanfaatkan keburukan yang diterima orang lain. Dan keburukan yang diterima manusia adalah hasil memanfaatkan kebaikan orang lain. Ruwet, kan? Manusia itu peroleh manfaat karena keburukan, peroleh keburukan karena kebaikan. Ibn Athaillah dalam kitab Al-Hikám menyebutkan, manusia itu bagusnya saja jelek, apalagi jeleknya. Ibn Athaillah berkata;  إِلَهِيْ مَنْ كَانَتْ مَحَاسِنُهُ مَسَاوِيَ فَكَيْفَ لَا تَكُوْنُ مَسَاوِيْهِ مَسَاوِيَ “Tuhanku, manusia yang bagusnya saja jelek, bagaimana jeleknya tidak menjadi kejelekan?”Sila kan Anda ulik-ulik kebaikan manusia yang tidak berdimensi keburukan. Tidak ada. Karena itu selagi mental Anda masih mau urus dengan pandangan manusia, Anda hanya akan temukan patah hati. Lah iya, Tuhan saja selalu ada manusia yang mengkritik dan mengolok. Dengan baik hati Tuhan turunkan hujan, manusia yang sedang berkepentingan jemur padi, tidak terima dan mengolok-olok. Tuhan dengan baik hati turunkan panas, manusia yang di tengah sawah mengolok-olok kepanasan. Tuhan dengan baik hati  turunkan rezeki, manusia yang merasa kekurangan mengolok-oloknya. Itu Tuhan. Tuhan saja tidak pernah pas di mata banyak manusia. Apalagi Anda? Sebab ini terlalu urus dengan pandangan manusia, Anda selamanya menjadi pesakitan patah hati. Hikmah sufi berkata; كُلُّنَا اَشْخَاصٌ عَادِيٌّ فِي نَظْرِ مَنْ لاَ يَعْرِفُنَا “Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orangyang tidak mengenal kita.” وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ رَائِعُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَفْهَمُنَا  “Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita.” وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مُمَيِّزُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يُحِبُّنَا  “Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.” وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مَغْرُوْرُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْسُدُنَا “Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian.” وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ سَيِّئُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْقِدُ عَلَيْنَا “Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri atas kita.” لِكُلِّ شَخْصٍ نَظْرَتُهُ، فَلاَ تَتْعَبْ نَفْسَكَ لِتُحْسِنَ عِنْدَ الآخَرِيْنَ “Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah melelahlan dirimu agar tampak baik di  mata orang lain.” Nah, kan? Lelah sendiri berurusan dengan manusia. Jadisudahlah, ayo latihan bodo amat. Hikmah sufi di atas melanjutkan; يَكْفِيْكَ رِضَا اللّٰهُ عَنْكَ ، رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَك “Cukuplah dengan ridha Allah bagimu, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang tak kan pernah tergapai.” وَرِضَا اللّٰهُ غَايَةٌ لاَ تُتْرَك ، فَاتْرُكْ مَا لاَ يُدْرَكْ ، وَاَدْرِكْ مَا لاَ يُتْرَكْ   “Sedangkan Ridha Allah, capaian yang pasti sampai, maka tinggalkan segala apa yang tak pernah bisa tercapai, dan  gapailah apa yang tak pernah tertinggal.” Begini, saat bertanding, pemain badminton itu bodo amat dengan penonton, mereka tidak mau peduli lagi dengan hiruk-pikuk supporter sendiri juga supporter lawan, mereka hanya fokus dengan permainan badmintonnya, namun saat itulah justru pemain badminton menjadi sangat menarik di hati para penonton. Hanya fokus dengan permainannya sendiri sehingga bodoh amat dengan penonton, itu kunci bagaimana pemain badminton  menarik di hati manusia. Fokus itu artinya “nyawiji” atau manunggal. Dan Maha Tunggal itu adalah sifat khas Tuhan; Esa tidak ada yang menyekutukan. Andai pemain badminton urus dengan dengan hiruk-pikuk penonton smhingga tidak fokus lagi dengan permainannya, ya malah penonton bubar. Sehingga ketika Anda hanya fokus kepada permainan Anda, dan menjadi bodo amat dengan manusia itulah yang disebut mencukupi diri hanya untuk menggapai ridha Tuhan. Tinja saja diciptakan ada fans dan hatters-nya, artinya ada pecinta dan pembencinya. Tinja sangat dicintai lalat dan sangat dibenci oleh Anda. Begitu pula diri Anda, diberi jatah peroleh orang-orang yang mencintai Anda sekaligus diberi jatah orang-orang yang benci. Keberuntungan dan penghargaan juga begitu. Ada wilayah dimana Anda dihargai sehingga Anda diperkenankan berkembang, namun ada wilayah dimana Anda direndahkan sehingga Anda dipersilakan buntung-buntung. Ada yang buka toko dia bangkrut, dia buka dagangan online laris manis. Ada yang di desa ilmunya ditolak masyarakat, di perkotaan diterima baik. Ada yang posting satu konten medsos saja tidak ada yang like, namun dimudahkan diangkat PNS.  Ada yang ditolak mentah-mentah lamaran pekerjaannya, dimudahkan peroleh jodoh orang shalih. Ada yang sekolahnya bodoh dan bebal, dia gilang-gemilang di karir olah raga. Ada yang berkiprah di ilmu, dia tidak laku, berkiprah di politik, dia laris manis. Setiap diri Anda punya wilayah dimana Anda dihargai sehingga Anda bisa berkembang disana, namun setiap Anda juga punya wilayah dimana Anda disia-sia sehingga Anda disampahkan disana. Nah untuk berkecukupan di dalam menggapai ridha Tuhan, fokus dan nyawiji lah di wilayah dimana Anda dihargai, itulah wilayah dimana Anda diberi peluang untuk berkembang, itulah titik dimana Anda untuk hanya fokus dalam permainan Anda sendiri tanpa pedulikan orang lain.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

RAHASIA EFESIENKAN UANG YANG TIDAK MEMISKINKAN

Karena masalah lemot, saya naikan wi-fi saya dari 20 Mbps menjadi 50 Mbps. Setelah pakai 50 Mbps ternyata tetap masih lemot.   Nah saat tetap lemot, saya bilang pada istri, “Wah IndiHome di sini belum layak dihargai mahal, belum layak dibeli sampai 50 Mbps. Bunda, turunkan speednya ke 20 Mbps lagi,” perintah saya pada istri.   Tapi istri tidak segera merespons turunkan speed wi-fi.   Hingga 1 bulan kemudian, e-banking saya sedang error, tidak bisa bayar wi-fi pakai e-banking, istri pun bayar wi-fi di Alfamart. Dia kaget dengan tarifnya, naik drastis. Sampai rumah, istri dengan antusias setujui usulan saya turunkan speed wi-fi.   Di situ saya nyeletuk, “Gak jadi turunkan speed wi-fi. Kemarin saat alasan saya karena kualitas layanan IndiHome belum sepadan dengan harga yang kita bayar, Bunda anteng-anteng saja responsnya, sekarang giliran rasakan tarifnya naik, Bunda dengan antusias turunkan speed. Gak jadi turun!” tegas saya.   Kenapa ketika istri merasakan berat dengan kenaikan tarif wi-fi justru saya batalkan untuk turun speed? Karena kalau alasannya “rasakan berat” dengan tarif, itu artinya alasan mundurnya karena kita kalah mental pada uang.   Beda kalau alasannya tidak puas dengan layanan wi-finya, itu bukan soal kalah mental, namun soal lain yang lebih bermartabat.   Harimau buas, ular beracun ganas, ketinggian awan, kedalaman lautan, semua yang ada di alam semesta ini punya fitrah tunduk pada manusia.   Harimau buas dan ular ganas jadi jinak pada kepiawaian pawang. Ketinggian awan dan kedalaman lautan, semua tunduk pada tehnologi buatan akal manusia.   Alam semesta punya bawaan fitrah tunduk kepada manusia, apalagi rezeki?   Kenapa kita hanya memerintah kepada rezeki agar lancar dan jangan ruwet, kok rezekinya tidak nurut? Rezeki tetap “mbalelo” bikin masalah?   Sebenarnya hal itu karena kita kerap pasang mental di bawah uang. Contohnya seperti kejadian istri saya turunkan speed wi-fi di atas.   Nah kalau Anda berhadapan dengan uang, lalu mental Anda kerap “turun mental” pada uang, ya selamanya Anda jadi obyek bualan uang.   Kalau Anda kerap efesienkan uang dengan alasan-alasan “beban finansial berat” ini yang jadikan uang enggan untuk Anda kendalikan.  Anda yang mentalnya kerap gerogi hadapi situasi finansial, lalu pilih mundur dari beban berat tersebut itu Anda yang terbaca oleh uang sebagai mental kerupuk uang.   Di situ Anda akan terus dikerjai uang, uang jadi enggan nurut dan tunduk kepada Anda. Di mata uang Anda tidak punya martabat.   Karena itu jangan pernah mundur dari tanggungan finansial dengan alasan “beban finansial”, boleh mundur atau turunkan beban tapi harus dengan alasan selain alasan “beban berat finansial”.   Sebaliknya Anda yang mudah melempem digertak situasi berat finansial, ya di situ Anda dianggap sampah oleh uang, efeknya hati Anda menyuruh agar rezeki lancar malah seret sekalian, jualan barang ingin laris-manis malah tidak laku sekalian, giliran Anda membeli sudah dapat harga mahal, kualitass barangnya jelek lagi.   Jadi bagaimana agar di saat survive keuangan lantas kita harus efesienkan uang namun tidak jadikan kita ruwet rezekinya?   Caranya ya pastikan diri kalau kita mengefesienkan uangnya bukan dengan alasan “beban berat finansial yang dirasakan”, tetapi ada alasan selain itu, misal seperti kasus saya turunkan speed wifi bukan karena alasan beratnya bayar tarif indihome, namun karena tidak puas dengan layanan indihome.   Muhammad Nurul Banan Gus Banan

JUNI 2023

UANG STRES KARENA NIAT ANDA

Harta itu makhluk pelayanan yang diciptakan untuk layani kepentingan Anda. Semua pelayanan diciptakan hakikatnya untuk memberikan kenyamanan. Di setiap bandara dan stasiun kereta api disediakan layanan ruang khusus merokok, disediakan pula fasilitas untuk difabel, itu artinya agar para perokok dan penyandang disabilitas merasa nyaman. Segala sesuatu lalu mau melayani tentu karena menghormati dan mencintai. Uang mau melayani Anda tentu karena uang hormat dan mencintai Anda. Uang itu pelayan manusia, nalurinya pun hormat kepada manusia. Karena itu ketika Anda mencari uang dengan niat merendahkan manusia, di situ uang akan alami tekanan stres, dan pungkasnya Anda yang hancur lebur sebab telah bikin stres uang.  Ya betapa uang tidak stres, karakternya uang melayani dengan hormat dan cinta kepada tuannya yakni manusia, malahan oleh Anda diajak untuk merendahkan manusia. Anda akan menyingkir dari segala hal yang bikin Anda stres. Uang pun begitu, ia akan menyingkir dari hidup Anda karena tekanan stres. Uang diajak untuk merendahkan martabat manusia itu gambarannya seperti anak yang dididik untuk durhaka kepada orang tuanya sendiri, menjadi kacau semuanya. Peta niat mencari uang agar uangnya harmoni dan bukannya alami stres, itu sebagaimana dipetakan dalam hadits berikut ini; “Barangsiapa mencari (kenikmatan) dunia dengan halal untuk menjaga diri dari meminta-minta; untuk memenuhi kebutuhan keluarganya; dan untuk berderma kepada tetangganya, maka di hari kiamat ia akan bertemu Allah dan wajahnya bersinar terang laksana bulan purnama. Sedangkan barangsiapa mencari (kenikmatan) dunia dengan halal untuk menumpuk-numpuknya dan pamer kepada sesama maka di hari kiamat ia akan bertemu Allah sedang Allah murka kepadanya.” (H.R. Baihaqi) Di hadits tersebut dijelaskan, sesudah Anda melewati mekanisme rezeki halal, Anda diajarkan untuk menata niat, mana niat yang bikin uang harmoni, dan mana niat yang bikin uang stres tertekan. Pertama, niat yang bikin uang harmoni adalah getaran hati yang akan memanggil ridha Allah, bahkan dijanjikan kelak di hari kiamat wajah Anda akan bersinar terang bak rembulan purnama, yakni  1). Niat cari uang untuk menjaga diri agar tidak meminta-minta.  2). Niat cari uang untuk cukupi kebutuhan keluarga.  3). Niat cari uang agar bisa berderma kepada sesama manusia. Anda perhatikan, ketiga niat tadi punya getaran memuliakan manusia. Niat jaga diri agar tidak meminta-minta jelas itu getaran agar harga diri Anda terjaga juga agar Anda tidak menjadi beban bagi orang lain.  Demikian pula niat cukupi kebutuhan keluarga itu demi mengangkat martabat keluarga Anda agar sejahtera. Dan niat agar bisa berderma, ini jelas sekali fokusnya untuk memuliakan sesama manusia. Kedua, niat cari uang yang bikin uang stres. Ini adalah cari uang dengan getaran niat yang jika disimpulkan adalah getaran niat yang merendahkan martabat manusia, yakni  1). Niat untuk menumpuk-numpuk harta artinya niat memperkaya diri agar tampak paling banyak hartanya. Dalam niat ini jelas harta digunakan untuk merendahkan martabat orang lain atas diri Anda. 2). Niat pamer-pameran ya karena pamer berpotensi melukai hati orang lain yang ujung-ujungnya juga merendahkan derajat orang lain. Tali simpulnya uang diciptakan untuk layani manusia dengan hormat dan cinta, maka itu kalau cari uang dengan niat merendahkan martabat manusia di antaranya dengan mengungguli sesama dengan harta, di situlah uang akan mengalami stres bersama Anda karena uang dilencengkan dari karakter aslinya yakni melayani manusia dengan hormat dan cinta. Muhammad Nurul BananGus Banan

Scroll to Top