SEPTEMBER 2023

SEPTEMBER 2023

TASAWUF “PURA-PURA TAK BUTUH”

Dagang itu wilayah self-benefit, area dimana Anda memberi kesempatan kepada diri Anda untuk mengisi energi, sebagaimana handphone berkesempatan men-charge baterainya, tubuh berkesempatan makan, pohon berkesempatan melakukan fotosintetis.   Semua makhluk hidup punya wilayah self benefit; area dimana dia berkesempatan untuk ambil energi dari luar dirinya untuk menguntungkan dirinya sendiri.   Salah satu sistem self benefit yang disediakan alam semesta adalah sistem perdagangan; entah bisnis, entah jual beli, entah perburuhan, entah kepegawaian, entah barang ataupun jasa.   Jadi etika dagang itu Anda ambil untung untuk diri Anda sendiri dari orang lain. Egois kan? Iya. Egois.   Karenanya dagang itu sebenarnya memanfaatkan kelemahan yang ada pada orang lain. Orang lapar, itu kelemahan diri, dimanfaatkan dengan dijuali makanan.   Orang kedinginan, itu kelemahan, dimanfaatkan dengan dijuali jaket. Orang berpenyakitan, itu kelemahan, dijuali obat. Di titik kelemahan orang lain lah, self benefit itu ada.   Hidup itu saling lempar dan saling terima kotoran, dari lempar-terima kotoran itulah sistem self benefit berlangsung. Anda membuang kotoran Karbon Dioksida sebagai racun, justru racun itulah yang dihargai oleh tumbuhan, karena itu self benefitnya.   Tumbuhan membuang kotoran Oksigen sebagai racun, justru racun itulah yang dihargai oleh Anda, dan itulah self benefit Anda.   Anda membuang kotoran penjahat, justru penjahat itulah yang dihargai oleh polisi, karena itu self benefitnya. Anda membuang kotoran penyakit, justru itu yang dihargai para dokter, karena itu self benefitnya.   Anda membuang kotoran kebodohan, justru kebodohan itulah yang dihargai para guru, karena itu self benefitnya.   Bagi sebagian makhluk adalah racun dan penyakit yang harus dibuang, bagi sebagian lainnya itu adalah self benefitnya. Karena itu Anda semua diciptakan punya titik lemah, karena dari kelemahan itulah Anda disiapkan Tuhan untuk menjadi penyedia energi makhluk lainnya.   وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا   “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS An-Nisâ: 28)   Semakin Anda punya banyak titik lemah, semakin besar pula emergi Anda untuk sediakan benefit kepada makhluk lain. Contoh, Anda banyak penyakit, ya Anda makin banyak kasih benefit ke para dokter, kan?   Beda dengan Anda yang tetap sehat. Anda jago makan atau dalam bahasa Jawa disebut RB (rai badog), ya Anda makin banyak kasih benefit ke para pengusaha kuliner, kan? Setiap kali Anda punya titik lemah, itulah self benefit bagi orang lain.   Maka dalam dagang itu ada etika yang sangat menyakitkan, dimana yang sedang terdesak kebutuhan, justru dia yang merugi banyak. Contoh, hutang sedang banyak sekali, sudah jatuh tempo belum ada uang, yang ada hanya motor satu-satunya. Lantas motornya mendesak dijual.   Si calon pembeli motor tahu dia orang sedang terdesak butuh uang, lantas keadaan tersebut dimanfaatkan untuk menguntungkannya. Motornya pun ditawar semurah-murahnya dengan dibanting harga.   Jadi begitulah isi dunia, yang lemah akan makin lemah, karena makin Anda punya banyak titik lemah, itu artinya Anda harus siap menjadi asupan energi benefit besar bagi orang lain. Di titik itu potensi miskin Anda makin menjadi.   Kesimpulannya, yang butuh itulah yang menjadi lemah.   Kenapa lemah? Karena butuh. Kenapa butuh? Bisa karena nafsu, bisa karena keadaan.   Kalau butuh karena keadaan, misal Anda sakit-sakitan, kecelakaan, musibah, kebutuhan primer hidup, itu hal yang tidak bisa Anda kendalikan, satu-satunya jalan adalah harus menjalaninya.   Butuh karena nafsu, ini yang bisa Anda kendalikan lalu Anda gunakan untuk melemahkan uang.   Karenanya Anda yang kuat dengan kekayaan sejati adalah Anda yang “sudah tidak butuh lagi”. Di situ Anda jadi menangan dengan uang.   Seperti contoh di atas terdesak jual motor karena kepepet hutang, maka butuh itulah yang jadikan nilai tawar Anda atas uang melemah.   Karenanya, ketika Anda transaksi, pura-pura tak butuh itu penting. Kuncinya sabar. Sabar. Pura-pura lah tak butuh amat. Sebenarnya butuh ya butuh, pingin ya pingin, tapi tahan dulu dengan sabar.   Paling menyakitkannya ketika keduluan orang. Namun ya tak apa, dunia jangan dipandang hanya selebar daun Kelor. Tanah itu didului orang, ya tanah lain masih banyak. Mobil itu didului orang, mobil lain masih banyak. Gitu aja prinsipnya. Dengan telaten lakukan trik-trik begitu, lama-lama Anda makin kaya, karena posisi Anda selalu menguat, dan uang selalu melemah. Mencapai rasa tidak butuh itu bisa dengan berbagai trik, di antaranya; 1. Punya rekening gede. Artinya dengan konsisten punya tabungan. Anda punya tabungan 3 M, namun mobil Anda masih pakai Toyota Avanza, lantas Anda jalan-jalan ke dealer mobil, lihat Toyota Alphard, di situ Anda membatin, “Beli ya saya bisa. Sayang duit si tidak, tapi buat apa?” Nah di keadaan mental begitu, asal kesadarannya bukan karena eman-eman (sayang lepas), Anda makin sakti dikejar kekayaan, karena sudah tak butuh. Trik ini adalah trik dengan menahan diri. Termasuk dalam trik ini pentingnya Anda punya kemandirian hidup. Orang kalau sudah mandiri dalam segala hal, ya nilai tawarnya tinggi, karena sudah tak begitu butuh. 2. Royal uang. Lah royal uang kan konsumtif, kok bisa buat trik tidak butuh uang? Bisa. Dengan mengelola kesadaran.   Anda belanja macam-macam, habis duit banyak, namun kesadaran Anda karena ingin melimpahi rezeki kepada para pedagang, kesadaran mengalirkan rezeki kepada orang lain, bukan karena kesadaran Anda butuh dengan barangnya, di situ energi uangnya mengalir ke energi dermawan.   Dermawan itu energi melemahkan uang, karena salah satu tanda lemahnya seseorang kepada uang adalah melekatinya dengan ingin mengumpulkan dan terus menggenggam. Atau Anda belanja banyak namun kesadarannya karena Anda merasa kaya, merasa banyak menerima karunia dari Tuhan, sehingga Anda tak ingin pelit kepada diri sendiri, di situ pun aliran energi uangnya mengalir ke energi syukur.   Syukur itu energi spiritual. Spiritual justru energinya melepaskan uang alias tak begitu butuh dengan uang. Muhammad Nurul BananGus Banan

SEPTEMBER 2023

INGAT! ANAK-ANAK BUKAN ASET CRYPTON

Maaf konten ini bukan untuk mengajak anak-anak merasa kecewa, bukan itu. Konten ini lebih ditujukan bagaimana kita sebagai parent melihat kehadiran seorang anak sehingga mampu menempatkan anak-anak sesuai hak-hak istimewanya. Anak-anak terlahir ke dunia itu karena mereka berkehendak dilahirkan atau kehendak orang tuanya agar dia lahir? Anak tak punya kehendak apapun untuk lahir, punya kepentingan menjadi anak Anda juga tidak ada. Andalah yang punya kehendak melahirkan mereka, menghadirkan mereka di alam dunia ini.   Mereka juga tak ada kepentingan agar jadi anak Anda karena mereka tak pernah diberi hak memilih untuk lahir dari orang tua mana. Kalau Anda mengundang pembicara, resikonya Anda harus mengganti biaya transportasi, biaya pesangon, dan lainnya. Beda kalau si pembicara datang sendiri, menyuguh seadanya tidak apa. Anak hadir di dunia ini karena Anda yang menghendakinya, bukan kehendak mereka sendiri, lalu kenapa saat mereka ingin sekolah, mereka harus ketakutan tidak ada biaya, padahal si anak lahir karena dikehendaki oleh Anda, ibarat pembicara diundang speaking, namun saat si pembicara kehabisan BBM, dia harus berpikir dan bertanggung jawab sendiri. Adab sopannya dimana? Dengan tamu tak diundang saja, Anda kewajiban menyuguhnya, apalagi dengan tamu undangan?   Anak dilahirkan karena diundang oleh Anda, lah kok mau makan enak saja dihadang, “Kamu anaknya orang tak punya. Jangan banyak minta-minta ke ayah. Ayah ga punya.” Sudah begitu anak dianggap modal investasi mirip Crypton yang suatu saat harus balik modal dan menguntungkan, seolah yang tidak bisa menguntungkan dirinya dilabeli durhaka. Kadang miris, sudah pendidikan mereka harus kreatif biayai sendiri, sesudah lulus dibebani agar kerja lalu bantu beban keluarga. Lah, emang mereka semacam aset Crypton? Nabi SAW menugaskan kepada kita, أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ “Muliakan anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka“. (H.R. Ibn Majah) Pilihan kata yang dipakai Nabi SAW adalah “akrimû” artinya muliakanlah, itu kan persis tamu yang Anda undang sebagai pembicara, ya karena anak-anak itu lahir bukan kehendak mereka, tapi kehendak orang tua. Orang tua yang berkehendak lahirkan anak-anak, mau tidak mau sepenuh hati memuliakan tamu undangannnya, sedikit pun jangan sampai membebani mereka. Orang tua bermental miskin cirinya mereka membebani anak-anaknya dengan sekeranjang beban. Alasan paling klasik ya karena orang tua merasa tidak mampu. Makanya terserah! Kalau Anda sudah punya kehendak mengundang anak-anak lahir, ya harus sadar itu tanggung jawabnya, cari solusinya, jangan pengecut beralasan lalu membebankan kesulitannya kepada anak-anak supaya ikut menanggung dan menyelesaikan tanggung jawab Anda. Ingat! Mereka tamu yang Anda undang. Ya Anda hadirkan tamu undangan, Anda berkewajiban memuliakannya, bukan berarti Anda tidak boleh berkepentingan dengan mereka.   Sesudah Anda memuliakan tamu undangan, kewajiban-kewajiban dibayarkan semuanya, sah-sah saja tamu undangan disuruh naik panggung lalu mengisi pengajian.   Dengan anak pun begitu, Anda boleh berkepentingan dengan mereka, misal meminta anaknya jadi anak berilmu, meminta mereka lanjutkan misi Anda, entah misi apapun, dan lainnya. Itu hak. Kalau mereka ugal-ugalan, selalu bikin masalah, tidak bisa diarahkan? Lah itu kan urusan mereka, itu dosa dan resiko mereka.   Point terpenting kewajibn Anda untuk memuliakan dan memperbagus adab anak-anak sudah dilaksanakan dengan baik, dan Anda telah sesuai fitrah melahirkan mereka dengan tanpa membebani masalah apapun. Dan bagi Anda anak-anak yang merasa jalan hidupnya diperlakukan seperti aset Crypton oleh orang tuanya, tulisan ini bukan supaya Anda merasa kecewa atau Anda tidak memberontak dari keadaan. Saya sendiri berubah kaya justru setelah saya dengan sadar berniat penuh memgkayakan orang tua saya. Ya tiap bulan saya menggaji rutin kedua orang tua saya.   Namun dasar kesadaran saya melakukan itu bukan saya merasa sebagai korban keadaan, namun murni karena saya ingin memuliakan orang tua, sehingga getaran hati saya adalah getaran pahlawan yang gagah. Andai saya melakukan itu namun di hati saya merasa sebagai korban penindasan, ya jelas yang namanya korban penindasan pasti terpuruk. Jadi Anda yang lahir sebagai anak namun malah harus memikul beban kesejahteraan orang yang melahirkan Anda, pastikan perasaan Anda bukan mengakses rasa sebagai korban, namun rasa sebagai pahlawan shaleh yang sedang berbakti sepenuhnya kepada orang tua. Jalani dan hadapi dengan rasa penuh bakti, karena tidak ada anak-anak yang bisa hidup mulia sebelum mereka sanggup dengan nyata memuliakan orang tuanya lahir batin. Muhammad Nurul Banan Gus Banan

Scroll to Top