spiritual prosperity

2017, Bacaan

Nol itu Operasi Sistem ‘Ala Kulli Syai-in Qadir

“Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake,” falsafah Jawa ini berarti “menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan”. Ini sebenarnya pakerti yang lahir dari operasi matematika tentang nol yang dikurangi dengan bilangan bulat positif. Nol dikurangi bilangan bulat positif menghasilkan bilangan negatif, misal 0 – 5 = -5. Matematika merupakan hukum kesepakatan eksak alam semesta, sehingga operasi aljabar berada di derajat Al-Muqtadir atau Mahapasti-Nya, aljabar menetapi mekanisme lā tabdīlā li sunnatillāh (tiada pengganti untuk sunatullah). Alhasil gerak prilaku alam di dimensi 0 bekerja ‘ala kulli syai-in qadīr (di atas segala lini, berkuasa). Betapa tidak, nol termasuk bilangan cacah, bilangan bulat, bilangan real, dan bilangan komplek. Nol merupakan pemisah antara bilangan positif dan bilangan negatif, tetapi nol tidak dikatakan positif atau negatif. Nol merupakan bilangan yang sebenarnya tidak memiliki tanda, karena ini nol mampu beroperasi ‘alā kulli syai-in qadīr. Demikian halnya ketika diri Anda “tidak memiliki tanda” alias lepas identitas ego, Anda mampu beroperasi seperti nol. Nabi Saw selalu mengalami pelepasan ego di awal-awal perjuangannya di Mekah. Sedang shalat dilempari kotoran unta, sedang istirahat hendak ditebas pedang, sedang berkuda, dikejar dari belakang dengan hunusan pedang, dituduh gila, dituduh kampret, dianjing-anjingkan, sedang sujud hendak ditindah batu besar, mau makan diracuni, teror dan intimidasi politik terus beliau terima. Hingga akhirnya memaksa beliau hijrah ke Madinah. Terus seperti itu, beliau sebagai “tanda” tetapi terus dirampas “tanda-nya”, beliau punya identitas ego tetapi egonya terus dinolkan. Inilah hakikatnya operasi menuju nol, dimana di operasi ini Anda yang terzalimi menerima perbuatan pelepasan “tanda diri”. Sementara si pezalim beroprasi di bidang bilangan positif, dimana ia terus menambah “tanda identitas ego” di dalam dirinya. Orang terzalimi dan si pezalim dalam operasi 0 – 5. Dalam aturan akhlak Islam, seorang ketika dizalimi punya mekanisme sebagai berikut:■ Halal membalas sesuai kadar kezaliman, misal asu dibalas asu, ini operasi 5 – 5 = 0.■ Jika balasannya melebihi kadar kezaliman, misal asu dibalas asu, celeng, bangsat, maka keadaan terbalik, si terzalimi menjadi pezalim, ia telah dosa, ini operasi 1 – 5 = -4.■ Jika tidak membalas, maka keburukan si terzalimi diberikan kepada si pezalim. Sudah tidak membalas masih juga dizalimi, maka kebaikan si pezalim diambil dan diberikan kepada si terzalimi, ini operasi 0 – 5 = -5. Tidak membalas, tidak membalas, tidak membalas dan itu terus dilakukan, maka Anda terus masuk ke kedalaman nol, Anda makin tidak bertanda. Saat itu wa huwa ‘alā kulli syai-in qadīr beroperasi sebagaimana hukum nol dikurangi bilangan bulat positif; 0 – 5. Karena ini, pada akhirnya perang Badar yang umat Islam hanya 3 ratus tentara mampu mengalahkan 3 ribu tentara Quraisy. Kekuatan umat Islam seperti ini karena dalam kurun waktu cukup lama Nabi Saw beserta pengikutnya berada pada akumulasi nol hingga tak terdeteksi, dizalimi secara terus menerus, maka ‘alā kulli syai-in qadīr bekerja. Hanya perang Uhud yang Nabi Saw kalah dari kaum Quraisy, ini disebabkan para pengikut Nabi Saw setelah mendapat kemenangan demi kemenangan, hingga terlalu “pede”, yakni mereka di mekanisme bilangan bulat positif. Bilangan positif dikurangi bilangan positif ya mekanisme bilangan normal yang bekerja. Pada puncaknya terjadi Fathul Makkah (Pembebasan Mekah) oleh Nabi Saw. Di sini, seluruh operasi digital kaum Quraisy padam. Komputer secanggih apapun akan mati mendadak jika tiba-tiba bertemu dengan digit nol. Segala pikiran dan kehendak padam ketika bertemu digit nol. Komputer memang diperintahkan berhenti operasi atau off, jika bertemu digit nol di sistem software. Nol memang mematikan. Dan peristiwa Fathul Makkah adalah daya nol Nabi Saw selama puluhan tahun diakumulasi. Al-Qur’an menyebut operasi digit nol dalam peristiwa Fathul Makkah ini dengan “nashrullāh” (pertolongan Allah) dalam Surat An-Nashr 1-3. Maka ini, orang Jawa punya filosofi, “Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorakè,” dan inilah kekuatan digit nol mematikan sistem komputer. Jurus tertinggi Kungfu Taichi adalah “merasa tidak berkekuatan apa-apa”, sehingga cara melawan musuh bukan dengan menangkis dan menyerang, tetapi dengan lepas pasrah, lepas tanda, menuju nol. Dan ketika telah nol, musuh yang menyerang justru terpental, dan serangan musuh berbalik menyerang dirinya sendiri. Bertemu digit nol, semua operasi sistem komputer padam, seluruh pikiran dan kehendak padam. Demikian, zalim terhadap orang lain sebenarnya upaya “membunuh diri”. Karena setiap kezaliman hakikatnya sedang meng-nol-kan orang lain. Ketika orang lain menjadi nol, maka ‘alā kulli syai-in qadīr beroperasi.

2017, Bacaan

Afirmasi Shalat

Pernah saya jelaskan, di luar shalat, Anda berpapasan dengan tetangga, lalu Anda tidak menyapanya, itu menjadi tidak beretika. Coba ketika Anda di dalam shalat, ada tetangga lewat lalu Anda menyapa, Anda beretika? Selain shalat, misal puasa, zakat, dan haji, Anda masih terhubung dengan selain-Nya. Di dalam shalat, Anda hanya dapat terhubung dengan-Nya. Anda batal shalatnya ketika dalam shalat Anda menyapa tetangga yang lewat, artinya di dalam shalat “hanya ada Anda dengan Allah.” Di dalam garis lurus perjalan alam Anda, kehidupan yang Anda hanya terhubung dengan Allah adalah alam kubur. Di alam mati, Anda ingin bakso tidak ada orang menjualnya kecuali Allah. Di sana Anda ingin tidur nyaman, tidak ada kasur, kecuali Allah. Di sana Anda ingin berkeluh kesah tidak ada soulmate kecuali Allah. Di alam mati, Anda hanya terhubung dengan Allah. Di dalam shalat, Anda hanya dengan Allah saja saling terhubung, selain Dia tidak diperkenankan Anda terhubung. Ini persis mati di mana Anda hanya dengan Allah saja dapat terhubung. Karena itu, shalat tidak lain pelatihan mati Anda. Ingatlah mati dalam shalatmu, karena apabila seseorang mengingat mati dalam shalatnya, niscaya ia akan bersusah payah memperbaiki shalatnya. Dan shalatlah seperti shalatnya seseorang yang tidak mengira akan shalat lagi.” (H.R. Ibn Majah). Jika mati menjadikan Anda hidup, artinya sesudah sekarat justru Anda hidup selamanya di alam kubur, maka shalat pun menjadikan Anda hidup, artinya sukses. Dalam sebuah penelitian, seseorang mengucapkan kata-kata bunuh diri, aku mau mati, aku mau mati, aku mati dengan penghayatan yang sangat dalam itu akan masuk ke bawah sadar. Dan, terbukti ia akhirnya bunuh diri. Nah, kekuatan pikiran inilah yang akan menjadi sesuatu yang akhirnya menjadi suatu perbuatan negatif. Afirmasi penghayatan rukun-rukun dan doa-doa dalam shalat jika dihayati dengan khusyuk sebenarnya metode keberlimpahan hidup dari dalam diri yakni metode bagaimana mempengaruhi pikiran bawah sadar agar konsisten di zona keberlimpahan. Kenapa dalam shalat kata-kata takbir dan doa diucapkan terus berulang. Karena, disitulah kekuatannya. Seperti dalam sebuah iklan produk, yang terus diulang-ulang, akan direkam dalam memori, hingga pelanggan dengan mudah mengingat kemudian membeli produk tersebut. Inilah yang disebut the power of repetition. Lima waktu shalat dengan gerakan dan bacaan yang diulang-ulang akan mengubah cara berpikir Anda. Maknai bacaan-baccan shalat seluruhnya, dari urusan ekonomi, derajat, sejahtera, cinta, kasih, kemanusiaan, harta, kerezekian, ilmu dan semua yang ada di dalam hidup dan mati itu ada di dalam bacaan dan doa shalat. Jika diulang-ulang, minimal 5 kali sehari, Anda sukses, seperti konsep the power of repetition di atas. “Dan mintalah pertolongan kamu sekalian dengan sabar dan shalat, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45) Ditegaskan kembali dalam ayat lainnya, “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

2017, Bacaan

Inside Prosperity 2

تَفَرَّغُوا مِنْ هُمُومِ الدُّنْيَا مَا اسْتَطَعْتُمْ ، فَإِنَّهُ مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّهِ أَفْشَى اللَّهُ ضَيْعَتَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، وَمَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ أَكْبَرَ هَمِّهِ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أُمُورَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ ، وَمَا أَقْبَلَ عَبْدٌ بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ إِلا جَعَلَ اللَّهُ قُلُوبَ الْمُؤْمِنِينَ تَفِدُ إِلَيْهِ بِالْوُدِّ وَالرَّحْمَةِ ، وَكَانَ اللَّهُ إِلَيْهِ بِكُلِّ خَيْرٍ أَسْرَع  Artinya: “Anda rilekslah dari kesedihan-kesedihan dunia selagi Anda mampu. Maka sungguh barangsiapa yang urusan dunia menjadi prioritas kesedihannya, maka Allah akan memperluas kehilangannya dan menjadikan kefakiran di antara kedua matanya. Dan barangsiapa yang menjadikan urusan akhirat sebagai prioritas kesedihannya maka Allah akan mengumpulkan urusan-urusannya untuknya, dan menjadikan kekayaan di hatinya. Tidak ada seorang hamba yang hatinya hanya menghadap kepada Allah kecuali Allah menjadikan hati orang-orang mukmin mengapresiasi dengan cinta dan kasih padanya, dan Allah lebih mempercepat segala kebaikan.” (H.R. Ath-Thabrânî) Seperti yang saya jelaskan kemarin; “Inside Prosperity #1” bahwa rezeki materi adalah fasilitas alam semesta untuk melayani body Anda. Body karakternya menolak diberi atensi prihatin, Anda ajak puasa, perut Anda menolaknya. Karena ini atensi rasa prihatin pada rezeki justru akan memblokir keberlimpahan rezeki Anda. Merasakan rezeki susah dicari, merasakan duit langka didapatkan, merasakan harga barang mahal-mahal, merasakan pekerjaan susah didapatkan, dan hal-hal lain yang beratensi rasa prihatin pada rezeki menjadikan rezeki terblokir, sebab karakter rezeki adalah karakter body di mana body maunya dibawa happy dan enjoy. Memprihatinkan rezeki materi tidak ubahnya Anda memasang empati yang salah pada keadaan tertentu, mirip kelahiran bayi yang seharusnya Anda sambut dengan rasa perayaan bahagia malahan Anda pasang empati duka cita layaknya kematian. Masalah ini menjadi sangat jelas ketika saya menemukan hadits Nabi S.A.W. di atas, “Anda rilekslah dari kesedihan-kesedihan dunia selagi Anda mampu. Maka sungguh barangsiapa yang urusan dunia menjadi prioritas kesedihannya, maka Allah akan memperluas kehilangannya dan menjadikan kefakiran di antara kedua matanya.” Ya memang begitulah, rezeki materi itu katak saja dijatah memperolehnya, tidak ada keistimewaan apa-apa untuknya, rezeki materi bukan sesuatu yang berarti dan bermakna. Dugem saja terus menerus asalkan Anda merasa happy itu akan menarik keberlimpahan rezeki. Namun menarik rezeki dengan dugem, silakan Anda tanggung sendiri energi negatifnya yang nanti akan menghantam Anda, sebab dugem bersifat hiburan. Anda hidup dipenuhi gemerlap hiburan, Anda akan kehilangan kontrol dan kendali diri, jadikan hidup Anda berantakkan, itu saja efeknya. Tidak percaya dugem bisa menarik rezeki? Lihat saja Maria Ozawa hahaha. Rezeki materi itu asal happy, asal enjoy, asal asik, semuanya menjadi penarik rezeki. Seperti dijelaskan hadits di atas, memprihatinkan rezeki justru akan menjadikan Anda pesakitan dengan urusan materi itu sendiri, Anda akan kehilangan peluang-peluang aliran rezeki, dan bahkan kehilangan kekayaan, itu disebabkan rezeki itu urusan body Anda, body menolak untuk susah dan prihatin. Banyak sekali orang-orang yang sebenarnya mengalami trauma-trauma kepedihan rezeki. Trauma-trauma tersebut mengendap dan mengakar kuat di pikiran bawah sadar mereka kalau rezeki adalah hal yang sangat susah didapatkan. Di Workshop Kesadaran Kesemestaan di Bandarlampung kemarin saya menghadapi kasus ini. Ada seorang peserta, ketika saya install program prosperity awarenness, dia malahan menangis pilu, ketika saya sambungkan ke channel kemiskinan dia malah tersenyum-senyum. Kisah hidupnya mirip yang saya alami secara pribadi. Terlalu banyak trauma-trauma kemiskinan yang mengendap di alam bawah sadar. Saya dan dia lahir dari keluarga miskin yang banyak mengalami masalah-masalah finansial sehingga menjadi trauma mentalitas. Dia benar-benar mirip saya, lahir sebagai anak orang miskin namun berdedikasi kuat untuk berubah. Anak demikian tentu pantang menyerah. Karakter ini yang kemudian membawanya bertemu dengan saya di Workshop Kesadaran Kesemestaan. Jika level mentalnya belum sampai di titik ini, apalagi disuruh bayar mahal untuk 2 hari workshop, untuk dengarkan nasehat saja susah. Meng-install program prosperity awarennes yakni program kesadaran kemakmuran bagi seorang trainer memang hal mudah, tetapi yang susah adalah penyiapan wadah kesadaran Anda untuk menerima program tersebut. Peserta workshop saya di atas, sebelum dia sampai di kelas pemeberdayaan saya, dia adalah pemuda yang bercita-cita tinggi, pekerja keras, taat ibadah, humoris, santun, berdedikasi kuat, berkemauan keras. Karena karakter ini kemudian membawanya naik ke level kesadaran berikutnya yakni prosperity awarennes itu sendiri. Jadi, memang programnya sederhana mengganti rasa susah pada rezeki menjadi rasa happy rezeki, tetapi hanya Anda yang berdedikasi dalam hidup yang sampai pada value of life ini. Segala perubahan terikat mekanisme “man jadda wajada”. Jadi “kebablasannya” adalah kesulitan kehidupan seperti kesulitan rezeki diturunkan untuk memberi gaya gesek agar Anda berubah, tetapi Anda terlalu malas, yang akhirnya perubahan itu tidak terjadi, tetapi malahan Anda memberi atensi kalau rezeki adalah hal yang memprihatinkan. Banyak orang yang ingin berubah hidupnya tetapi tidak sanggup menerima gaya gesek, padahal semua perubahan di alam semesta terjadi melalui proses gesekan, kayu akan berubah menjadi kertas harus dirajang-rajang dan digiling rancu di dalam mesin pencetak kertas, semua perubahan lahir dari gesekan. Maka ini wajar jika para ulama mempersiapkan perubahan untuk santrinya dengan membangun mental “khidmah” para santri. Santri ingin berubah harus berani melayani kyai tanpa pamrih. Kyai kehujanan, santri harus memayungi dengan tulus tanpa mempedulikan dirinya sendiri kehujanan. Itu dilakukan kyai demi memberikan gaya gesek yang seimbang untuk perubahan hidup santri itu sendiri. Banyak calon peserta workshop yang baru digesek tarif kemudian mundur, ini disebabkan kesiapan wadah untuk berubah yang masih alpha. Atensi prihatin jika ingin menjadi keberlimpahan rezeki seharusnya diafirmasikan pada area chakra jantung ke atas, yakni ke area spiritual. Urusan ilmu, urusan akhirat, urusan spiritual ini area-area yang harmoni diberi atensi rasa prihatin. Sebab ilmu, akhirat dan spiritual ini adalah program-program istimewa dari-Nya untuk diri manusia. Tidak ada anjing memahami spiritual, mengenali ilmu, apalagi ada anjing dikenalkan urusan akhirat? Area chakra jantung ke atas, istimewa untuk Anda, Anda layak memberi atensi rasa prihatin. Sebab ini hadits di atas merilis, “Dan barangsiapa yang menjadikan urusan akhirat sebagai prioritas kesedihannya maka Allah akan mengumpulkan urusan-urusannya untuknya, dan menjadikan kekayaan di hatinya.” Area chakra jantung ke atas adalah area istimewa umat manusia. Anda yang memprioritaskan agar area tersebut cemerlang hingga Anda memperjuangkannya dengan rasa prihatin dan kesungguhan, akan meningkat kualitas kesadarannya. Kesadaran meningkat, hati pun penuh rasa kaya. Hati yang kaya itulah pemanggil semua realitas keberlimpahan.

2017, Bacaan

Kekayaan Versus Kecukupan

Sebuah Hikayat Suatu saat K.H. Abdul Jalil Mustaqim bin Husain (Mbah Jalil) Tulungagung ditanya oleh santrinya, “Mbah, zuhud yang dimaksud dalam kitab Ihyâ’ ‘Uumaddin itu yang seperti apa? “Oh.. kamu belum paham, ya? Ya sudah sana, kamu menimba air sumur, isi bak kamar mandinya?” jawab Mbah Jalil. Santri mengiyakan, “Iya, Mbah”. Lalu dia bergegas mengisi 2 bak kamar mandi yang besar-besar. Seusai santri mengisi penuh 2 bak mandi, Mbah Jalil menanyakan, ” Sudah selesai? Capai, tidak?” “Sudah selesai, Mbah. Iya capai,” jawab santri. Mbah Jalil lalu menyuruh santri mandi, “Sekarang kamu mandi dulu, sana?” Setelah santri selesai mandi, ditanya lagi oleh Mbah Jalil, “Air 2 bak besar tadi, kamu habiskan semua untuk mandi, apa tidak?”  “Ya tidak, Mbah, cuma air secukupnya saja yang saya pakai untuk mandi,” sahut santri. “Ya seperti itulah zuhud,” tegas Mbah Jalil, “Kamu cari sebanyak-banyaknya, tapi kamu ambil secukupnya saja untuk dirimu, sisanya biar dirasakan manfaatnya untuk orang lain.” Anda paham?

Scroll to Top