Ketika sebuah benda memberikan gaya kepada benda lain maka benda kedua membalas dengan memberikan gaya kepada benda pertama, di mana gaya yang diberikan sama besar tetapi berlawanan arah. Jadi gaya yang bekerja pada sebuah benda merupakan hasil interaksi dengan benda lain. Coba Anda tendanglah batu atau tembok dengan keras, maka kaki Anda akan terasa sakit.

Makin keras tendangannya, kaki patah, makin keras lagi kaki remuk. Ini disebabkan karena ketika Anda menendang tembok atau batu, tembok atau batu membalas memberikan gaya kepada kaki Anda, di mana besar gaya tersebut sama, hanya berlawanan arah. Gaya yang Anda berikan arahnya menuju batu atau tembok, sedangkan gaya yang diberikan oleh batu atau tembok arahnya menuju kaki Anda. Silakan dicoba!


Jika Anda menaiki perahu dan melemparkan sesuatu ketika perahu sedang diam. Amati bahwa perahu akan bergerak ke belakang jika Anda melempar ke depan, dan sebaliknya. Silakan dicoba!

Gaya tendangan kaki dan lemparan benda disebut “aksi” sedangkan gaya balasan dari tembok atau gerakan perahu ke belakang itu yang disebut “reaksi”.

Alam semesta dengan segenap energinya selalu bekerja mencari keseimbangan, sehingga setiap aksi selalu disambut reaksi. Karena ini semesta tidak punya “sistem hutangan”, semua aksi hutang harus dibayar reaksi lunas. Kalaupun ada hutangan, itu hanya sistem alternatif dan bukan sistem asli. Namun sekalipun diberi alternatif hutangan, semesta tetap bereaksi bayar lunas, walau harus menunggu ke penghujung masa depan tak terbatas, aksi hutang tetap disambut reaksi lunas; tetap ditagih dan semesta tidak punya sistem kredit macet. Karena ini, ketika seseorang wafat hal pertama yang harus direalisasikan oleh keluarga mayit adalah membayar hutang-hutang mayit karena hutang adalah masalah pertama yang menjadi problem mayit di alam kubur.


Energi alam semesta selalu berhubungan dengan energi yang ada di setiap diri manusia, karena ini setiap aksi Anda akan direspons serupa oleh gaya reaksi semesta dengan gaya yang berbalik arah. Ketika Anda beraksi hutang pada semesta, semesta akan bereaksi bayar lunas, dibayar kredit boleh, kreditnya sementara macet juga tidak apa, tapi tetap harus lunas.

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang menghisabnya.” (Q.S. Al-Anbiyā’ : 47)


Arti ”berhutang” pada alam semesta adalah bila seseorang berbuat hal yang buruk pada sesama atau pada alam. Misalnya dengan merugikan orang lain atau mengambil hak orang lain atau merusak alam, orang tersebut telah meminjam atau berhutang pada alam semesta. Pada suatu saat, alam semesta akan mengambil kembali hutang energi tersebut, dalam bentuk kejadian buruk yang dialami oleh orang yang berhutang. Sering kali dalam skala yang berlipat ganda. Korupsi, risywah, mencuri, menghina orang,
melaknat, mengfitnah, menganiaya, dsb., semua–jika Anda melakukannya–adalah bentuk hutang Anda kepada energi alam semesta, semesta akan bereaksi menagihnya dengan gaya yang berlawanan arah.


Yang sering dianggap keberuntungan besar adalah ketika Anda “menerima” pemberian. Sebenarnya yang terjadi ketika Anda “menerima” itu Anda sedang dihutangi budi, Anda sedang menerima aksi, karena ini kalau Anda sedang menerima pemberian, bahasa tubuh Anda berkata, “Aduh jadi merepotkan ini!” Itu karena hati Anda merasakan ada tanggung jawab lain setelah menerima.

Maka itu jika Anda suka menerima, Anda menjadi orang yang banyak hutang budi, walaupun reaksi hutang menerima budi berbeda dengan reaksi hutang kejahatan. Namun efek banyak hutang–misal punya cicilan bank–maka pelaku mudah mengalami kegelisahan hati,
meningkatnya hormon stres, dan tidak tenang. Demikian pula orang yang suka menerima, ia juga mudah mengalami kegelisahan hati, peningkatan hormon stres, dan selalu tidak tenang, karena ia banyak menanggung hutang budi. Jadi jangan Anda anggap pengemis itu tenang hatinya, tidak sama sekali. Bahkan pada tingkat hilangnya pemberdayaan diri karena terlalu banyak menerima pemberian, bisa berefek meningkatnya keruwetan hidup sebab pikiran sudah ruwet duluan.


Berbeda ketika Anda beraksi “memberi”, semesta bereaksi sebaliknya, karena memberi itu aksinya bukan “dihutangi budi” tapi “menghutangi budi”. Reaksi semesta tentu merasa punya kawajiban balas jasa kepada Anda. Karena ini tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
“Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah S.A.W. bersabda di atas mimbar, beliau menyebut tentang sedekah dan menahan diri dari meminta-minta. Sabda beliau, ‘Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah tangan pemberi sementara tangan yang di bawah adalah tangan peminta-minta.’” (H.R. Muslim)

Sekarang menguntungkan mana antara menerima dan memberi?

Namun keteraturan di atas baru sistem di ranah hisāb Newtonian (hukum aksi-reaksi) yang matematis. Di bawah hisāb kuantum; perhitungan di atas kecepatan cahaya; getaran pecahan inti atom terkecil, keteraturan itu bisa tidak berlaku.

Sebab ini ada kisah pelacur yang ahli berzina yang seharusnya dalam hisāb Newtonian menerima reaksi masuk neraka, namun gara-gara ia dengan ikhlas menolong anjing kehausan; yakni ia masuk di kesadaran kuantum, lalu si pelacur menjadi ahli surga. Hisāb aksi-reaksi Newtonian tidak berlaku, karena memasuki hisāb kuantum.

Dan ada juga kisah Barseso yang ahli beribadah, secara hisāb Newtonian ia ahli surga, namun ia jadi ahli neraka, mati dengan tunduk pada setan. Hisāb aksi-reaksi Newtonian tidak berlaku, karena memasuki hisāb kuantum.
Artinya di bawah kesadaran kuantum, semua hisāb kebaikan dan keburukan bersandar pada rahmat Tuhan. Di bawah hisāb ini kaki Anda menendang batu, bisa-bisa batunya hancur lebur, dan kaki Anda menendang sebutir debu, bisa-bisa kaki Anda remuk-remuk.

Jadi mohonlah rahmat Tuhan dalam berbuat di segala hal, Anda beraksi memberi belum tentu bereaksi menghutangi budi, Anda beraksi menerima belum tentu bereaksi hutang budi, semua perbuatan hanya menunggu rahmat Tuhan.