'UQUQ BI 'UQUQ; DIDURHAKAI? KARENA EMANG DULUAN DURHAKA
Dalam kitab Al-Futûhâtul 'Âliyyah halaman 141, dikisahkan suatu ketika ada seseorang datang menghadap Umar bin Khattab RA. Dia mengadukan kedurhakaan anaknya kepadanya.
Umar bin Khattab pun memanggil si anak, lantas mencela dan memperingatkannya.
Dicela, si anak pun membela diri, "Hai Amîrul mu'minîn, apakah anak tidak punya hak atas orang tuanya?"
Artinya si anak menanyakan kepada Umar bin Khattab, apa ketika anak melawan orang tuanya lantaran banyak hak-hak anak yang tidak dipenuhi oleh orang tuanya, itu disebut durhaka? Apakah anak hanya dituntut berbakti dan berbakti, sementara hak-haknya sebagai anak diabaikan oleh orang tuanya?
Ditanyai begitu Umar pun menjawab, "Iya. Ada hak anak."
Si anak bertanya lagi, "Apa itu, hai Amîrul Mu'minîn?"
Umar menjawab, "Pertama, memilihkan ibu yang baik untuk anak-anaknya. Kedua, memberi nama yang baik untuk anaknya. Ketiga, mengajarkan Al-Qur'an kepada anaknya."
Si anak pun menerangkan kepada Umar, "Bapakku tidak pernah menunaikan satu pun dari 3 hal tersebut. Ibuku seorang waninta negro (kulit hitam Afrika) dan beragama Majusi. Bapakku memberi aku nama "Ju'ala" yang artinya kumbang. Pendidikan dan pengajaran Al-Qur'an walaupun satu huruf, tak pernah diajarkan kepadaku."
Dijelaskan demikian, Umar pun menoleh ke si bapak, dan berkata kepadanya, "Pak, engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, dan ternyata engkau duluan yang telah menyakiti anakmu sebelum dia durhaka kepadamu. Engkau telah berbuat jelek kepada anak lebih dulu sebelum anakmu berbuat jelek kepadamu."
Jadi kalau Anda merasa anak Anda durhaka, check richeck dulu ke dalam diri, lihat dulu historinya, sudahkah Anda memenuhi semua kewajiban Anda kepada anak?
Tidak bisa seenaknya menyetempel anak durhaka ketika si anak berani menentang si ortu, karena anak bukan investasi ortu yang kelahirannya hanya untuk menguntungkan ortunya. Apalagi anak dijadikan korban perasaan, lantas ketika anak melawan, dengan enteng dicap durhaka.
Emang tidak sakit? Waktu kecil dipukuli dan dibentak-bentak. Pingin jajan saja digertak, "Boros! Emang duit mudah dicari apa?" Punya cita-cita ingin sekolah tinggi dijawabi ketus, "Enggak ada biaya." Punya keinginan usaha, dikasih modal juga enggak." Sudah begitu latihan kerja mandiri langsung dituntut setoran bulanan bantu orang tua.
Anak diperlakukan begitu, dia sakit dan dendam, tahu?
Miskin-miskinnya sendiri, anak diajak ikut bertanggung jawab. Sengsara karena karma kualatnya sendiri, anak-anak dituntut menuntaskannya.
Dosa besar, ortu-ortu yang tidak konsisten memenuhi hak-hak anaknya.
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
"Cukuplah dosa bagi seseorang dengan dia menyia-nyiakan orang yang dia tanggung." (H.R. Abû Dawud)
Umar bin Khattab jelas lebih berat hati dan lebuh bersimpati kepada si anak yang berani menentang kepada ortunya yang durhaka.
Sekali lagi, Anda didurhakai anak? Atau Anda sedang ngotot menuntut anak Anda berbakti? Check ke dalam diri dulu, sudah layakkah Anda menerima itu?
Dan bagi Anda sebagai anak yang mungkin korban kecewa hati atas keburukan ortu kepada Anda, memaafkan itu jelas yang utama.
Kalau Anda masih belum bisa memaafkan, minimal Anda jangan menentangnya dengan bengal, apalagi seperti sedang melawan preman. Tetaplah santun kepada mereka.
Tetap santun tapi ambil jarak dan jauhi, daripada dekat tetapi makin menyakitkan hati.
Dan kalau ortu membahayakan diri Anda, seperti memeras uang, membebani dengan tuntutan tinggi, menekan, merendahkan, dan lainnya, boleh kok Anda membela diri. Tapi ingat! Sekedar membela diri, bukan arogan kepada mereka. Sekedar membela diri, membela hak-hak anak, seperti cerita si anak yang dipanggil oleh Umar bin Khattab.
- Muhammad Nurul Banan
- Gus Banan
- Spiritual Prosperity Class